Sebenarnya sejak masih di Indonesia, saya sudah apply apartment di on-campus housing. Di kampus saya cuma ada 2 housing, University Village dan Waterview Park. Karena UTD tergolong kampus yg kecil, emang enak sih tinggal di kampus, ke tempat kuliah bisa jalan kaki. Saya sudah apply on-campus housing sejak bulan Juni. Rupanya saat itu udah terlambat karena pada akhirnya saya tidak bisa mendapatkan kamar sampai Fall semester dimulai. Terpaksa ketika sampai di Dallas, saya harus cari2 apartemen dulu.
Tapi, terima kasih Tuhan yg telah melancarkan urusan saya. Di UTD ada satu mahasiswa PhD yg juga dari Indonesia, namanya Herurisha. Dia di sini tinggal bersama istrinya, Prias, dan anaknya yg baru berumur 4 tahun, Rafi. Berkat Prias dan keluarga, saya punya tempat tinggal sementara di Dallas ini. Memang Tuhan Maha Besar. Hari pertama saya dateng ke sini, nyari2 apartemen di Ashwood Park, kompleks apartemen dimana Prias dan keluarga tinggal, kok ya langsung dapet. Padahal krn saya datengnya udah telat banget, Prias bilang hampir semua apartemen sudah penuh. Kalo pagi sudah banyak student UTD yg menunggu bis di bus stop depan apartemen. Saya udah siap2 aja hari itu harus ngedatengin leasing office beberapa apartemen untuk bisa ketemu satu yg masih kosong. Eh, di leasing office pertama yg saya datengin, langsung dapet. Walaupun apartemennya baru bisa ditempatin tanggal 2 September sih. Jadi sampai tanggal itu saya tinggal di rumah Prias dulu. Gak papalah harus nunggu dulu, segitu juga udah syukur bisa dapet.
Apartemen saya ini deket banget dengan apartemennya Prias, gedungnya sebelahan. Dan setelah pindah, baru saya bisa ngeliat dalemnya. Wow, ternyata luas banget! Terlalu besar untuk ditempatin sendiri. Tapi apa daya, cuma ini yg kosong waktu saya apply. Lagipula harganya juga masih reasonable. Sebenarnya cost bulanannya tergolong mahal, tapi krn saya sewa pake minimum contract langsung 7 bulan, saya dapet potongan biaya plus student discount. Setelah diitung2 cost per bulannya jadi jauh lebih murah, masih masuk lah dalam range monthly stipend yg diberikan oleh Fulbright.
Ini adalah apartemen one bed-room dan one bath-room. Ada living roon, dining room, balkon, dan dapur. Apartemen ini tidak dilengkapi dengan furniture, tapi sudah dilengkapi dengan kitchen set seperti kompor listrik, kulkas, microwave, oven, dan dishwasher. Udah komplit banget kan? Saya bisa masak makanan sehari2, bisa bikin kue. Ruangannya sudah dilengkapi AC yg dapat berfungsi sebagai cooler maupun heater. Tapi di living room juga ada perapiannya, in case the heater doesn’t work properly during winter. Waktu baru masuk, satu2nya furniture yg saya punya adalah queen-size bed, yg baru saya beli setelah pindah. Melihat living room dan dining room yg cukup luas, saya berpikir mungkin nanti saya akan beli TV dan sofa untuk diletakkan di living room. Plus, Prias katanya mau ngasih meja kalo dia dan keluarganya pindah ke Houston bulan Oktober nanti. Asyiiik, jadi gak sayang nih apartemen segede gini, gak dibiarin kosong melompong. ![]()
Ditinjau dari lokasi juga strategis. Apartemen ini terletak pada jalur shuttle busnya UTD, jadi walau ke kampus harus naik bis, saya gak perlu keluar biaya transportasi sama sekali. Frekuensi shuttle bus tsb juga lumayan sering, 15 menit sekali. Kecuali hari sabtu yg cuma sejam sekali. Kalo naik mobil pribadi, paling juga 5 menit dah nyampe kampus. Tapi kalo naik bis, karena berenti2, sekitar 15 menit perjalanan ke kampus. Lumayan deket kan? Dari apartemen ke bus stop pun deket banget, karena apartemen saya langsung menghadap ke jalan raya, cuma dipisahkan oleh tempat parkir aja ke jalan. Bis shuttle tsb juga melewati kompleks grocery stores, seperti Target, untuk belanja keperluan sehari2, dan Staples, untuk belanja peralatan komputer. Juga ngelewatin Bank Wells Fargo, teman dimana saya buka bank account, jadi gampang juga kalo ada urusan ke Bank. Khusus hari Jumat bis shuttle juga melewati Walmart, another grocery store besides Target.
Karena saya ngerasa apartemen ini luas banget, sebenarnya saya berencana untuk pindah ke apartemen yg lebih kecil dan lebih murah kalo kontrak saya abis nanti. Tapi dipikir2, apartemen ini sudah ideal banget. Dari segi harga, lokasi, kenyamanan, semua OK. Di housing campus, apartemen one BR kayak gini harganya jauh lebih mahal, bisa selisih $200an, itu pun lebih kecil. It seems I have no reason to move out. Lagipula di US ini sebaiknya kita punya established address, biar gampang urusan apa2, dengan bank, electric company, internet, SSN, driving license, dsb. Kalo kita terus ganti2 alamat, ribet mesti ngupdate data di sana-sini, belum mesti transfer layanan listrik dan internet. Yah, semoga saja saya betah di apartemen ini, sehingga memang tidak perlu pindah sampai kuliah saya selesai.