<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Vinley @ America</title>
	<atom:link href="http://www.elvini.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.elvini.net</link>
	<description>Kesuksesan hanya dapat diraih dengan kerja keras dan doa</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Nov 2011 08:07:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Satuan Pengukuran di Amerika</title>
		<link>http://www.elvini.net/amerika/satuan-pengukuran-di-amerika</link>
		<comments>http://www.elvini.net/amerika/satuan-pengukuran-di-amerika#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 07:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Amerika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[America is so different from Indonesia. Pindah dari Indonesia ke Amerika, banyak sekali penyesuaian yang harus saya lakukan. Salah satunya adalah penyesuaian terhadap satuan pengukuran. Amerika menggunakan sistem pengukuran yang berbeda dari kebanyakan negara-negara di dunia ini. Suhu – bukan diukur dalam Celsius, tapi dalam Fahrenheit. Buat yang pernah belajar Fisika, pasti tau dong cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>America is so different from Indonesia. Pindah dari Indonesia ke Amerika, banyak sekali penyesuaian yang harus saya lakukan. Salah satunya adalah penyesuaian terhadap satuan pengukuran. Amerika menggunakan sistem pengukuran yang berbeda dari kebanyakan negara-negara di dunia ini.</p>
<p><strong>Suhu</strong> – bukan diukur dalam Celsius, tapi dalam Fahrenheit. Buat yang pernah belajar Fisika, pasti tau dong cara konversi dari Fahrenheit ke Celsius ini gak sesimpel seperti mengkonversi dari kilometer ke meter. Pusing aja kalau setiap dikasih tau suhu sekian derajat Fahrenheit, saya harus ngitung, berapa derajat Celsius ya? Alternatifnya, saya beli thermometer yang ada satuan Celsius dan Fahrenheit sekaligus. Dari situ saya mulai familiar, 90F ≈ 32C, 80F ≈ 27C, 70F ≈ 21 C, 60F ≈ 15C, dan 40F ≈ 5C. Selama Summer kemarin, suhu di Texas berkisar antara 80F dan 100F, dan selama Fall ini antara 60F dan 80F, jadi saya sudah bisa membayangkan sepanas apa atau sedingin apa sekian derajat dalam Fahrenheit, tanpa harus mengkonversikannya dulu ke Celsius. Biasanya untuk cooler/heater di apartemen, saya selalu ngeset thermostat di suhu 76F. Suhu 80F itu hangat, bisa pake baju tipis aja ke luar rumah. Di bawah 70F sudah terasa dingin, sudah harus pake jaket kalo ke luar rumah.</p>
<p><strong>Jarak dan Luas </strong>– Jarak bukan diukur dalam meter atau kilometer, melainkan dalam feet atau mil. Untuk ngukur jarak ini, terpaksa saya masih harus menghitung konversi, sekian feet itu berapa meter, sekian mil itu berapa km, karena saya masih belum bisa membayangkan seberapa jauh sekian feet atau sekian mil. Apalagi luas dalam satuan square feet. Gak tau deh itu berapa meter persegi. Satuan panjang masih gampang, dari feet ke meter tinggal dibagi 3, dari mil ke km tinggal dikali 1.6 (atau 1.5 biar simpel). Tapi luas, saya nyerah deh. Belum menemukan cara cepat gimana menghitung dari square feet ke meter persegi.</p>
<p><strong>Kecepatan</strong> – Karena satuan jarak diukur dalam mil, bukan km, kecepatan kendaraan juga diukur dalam mil/jam, bukan km/jam. Buat yang biasa dengan satuan km/jam, harus berhati-hati karena kita masih suka membayangkan kecepatan dalam mil/jam itu sama seperti kecepatan dalam km/jam. Padahal jauh lebih cepat. Misalnya, kalo kita ngeliat speedometer mobil menunjukkan 80, jangan ngerasanya kayak lagi lari dengan kecepatan 80 km/jam. Sadarlah bahwa kita sedang berlari dengan kecepatan 128 km/jam!</p>
<p><strong>Tinggi</strong> – Bukan dalam centimeter, tapi dalam feet dan inchi. Yang ini juga sama, saya masih harus ngitung, dari cm ke feet dibagi 30, sisanya dari cm ke inchi dibagi 3. Jadi kalau tinggi saya 165 cm itu berarti 150cm + 15cm = 5feet + 5inchi. Dari feet-inchi ke cm ya dikali 30 nilai feetnya, dan dikali 3 nilai inchinya, terus jumlahin deh. Pusing? Dikit sih. Tapi jangankan saya yang baru beberapa bulan tinggal di Amerika. Dosen saya, Chinese, yang sudah belasan tahun ngajar di Amerika pun mengaku sampai sekarang masih suka keder dengan satuan yang digunakan di Amerika.</p>
<p><strong>Volume</strong> – yang dipakai adalah gallon dan quart. Kalau yang ini saya udah gak melakukan konversi lagi ke liter, terlalu ribet. Kalo mau dihitung, 1 gallon = 3.78 liter, 1 quart = 946ml. Tapi saya pake imajinasi saja. Botol susu yang besar itu biasanya tersedia dalam ukuran 1 gallon. Kecilan dikit, ½ gallon, alias separonya. Yang lebih kecil lagi, ini bentuknya hampir sama dengan botol Coca Cola 1 liter di Indonesia, itu 1 quart. Beli bensin juga yang dipakai satuan gallon, dan harga yang diberikan pun harga per gallon. Jadi harus tau tuh, kalo mau isi full tank buat mobil kita, harus isi berapa gallon.</p>
<p><strong>Berat</strong> – yang dipakai adalan <em>pound</em> (biasanya ditulis <em>lb.</em>) dan <em>ounce</em> (biasanya ditulis <em>oz</em>). Konversinya, 1 lb. ≈ 0.5 kg, dan 1 oz = 28 gram. Kalo buat berat badan, dinyatakan dalam satuan <em>pound</em> ini agak bikin stress karena kesannya jadi berat banget, 2 kali lipet! <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Sama seperti volume, ini pun saya pake imajinasi aja. Botol kopi Nescafe ukuran sedang, itu sama dengan 3.5 oz (100gr), bisa bertahan sebulan. Sementara yang gedean, itu 7 oz (200gr), bisa bertahan 2 bulanan.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/amerika/satuan-pengukuran-di-amerika/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat ITIN/SSN</title>
		<link>http://www.elvini.net/fulbright/membuat-itinssn</link>
		<comments>http://www.elvini.net/fulbright/membuat-itinssn#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 04:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Fiuhh… setelah sekian lama tertunda-tunda, akhirnya urusan bikin SSN/ITIN ini beres sudah. Sebagai Fulbright student, saya diwajibkan memiliki Social Security Number (SSN) atau Individual Taxpayer Identification Number (ITIN). Jika saya berkerja dan mendapatkan penghasilan dari sebuah institusi di Amerika, misalnya menjadi Teaching Assistant (TA) atau Research Assistant (RA) di kampus, maka saya wajib memiliki SSN. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fiuhh… setelah sekian lama tertunda-tunda, akhirnya urusan bikin SSN/ITIN ini beres sudah. Sebagai Fulbright student, saya diwajibkan memiliki <em>Social Security Number</em> (SSN) atau <em>Individual Taxpayer Identification Number</em> (ITIN). Jika saya berkerja dan mendapatkan penghasilan dari sebuah institusi di Amerika, misalnya menjadi <em>Teaching Assistant</em> (TA) atau <em>Research Assistant</em> (RA) di kampus, maka saya wajib memiliki SSN. Nah, karena sumber keuangan saya sepenuhnya dari beasiswa Fulbright, saya tidak perlu membuat SSN, tapi cukup membuat ITIN. Kalau di Indonesia, SSN/ITIN ini semacam NPWP, tujuannya untuk pelaporan pajak yang dilakukan setiap tahun, dan sama bulan Maret juga!</p>
<p>Untuk mendapatkan ITIN, saya bisa mengurus aplikasinya melalui Taxback, salah satu agen <em>Internal Revenue Service</em> (IRS), kantor pajak Amrik, yang khusus ditugaskan oleh Fulbright untuk membantu proses aplikasi ITIN bagi para Fulbrighters. Cara aplikasi ITIN melalui Taxback ini mudah sekali, kita tinggal kontak via email, memberitahukan nomor IIE Grantee ID kita, kemudian mereka akan memberikan form aplikasi. Kita harus mengisi dan menandatangani form ini, kemudian mengirimkannya ke kantor Taxback di Chicago, bersama dengan fotokopi paspor yang disahkan oleh notaris Amerika.</p>
<p>Nah, syarat notarisasi fotokopi paspor ini yang bikin saya pusing. Biasanya di universitas disediakan jasa notaris untuk mahasiswa. Awal Oktober, saya sudah coba menemui notaris di kampus untuk minta sertifikasi paspor saya. Tapi anehnya notaris tersebut bilang bahwa dia tidak bisa memberikan sertifikasi terhadap paspor asing, hanya bisa paspor Amerika. Menurut penjelasannya, hal tersebut dibatasi oleh ketentuan hukum di Texas. Bingung dong saya. Kalau memang notaris di Texas tidak diizinkan mensertifikasi paspor asing, lalu bagaimana saya bisa melengkapi persyaratan untuk aplikasi ITIN? Dan kenapa juga IRS membuat syarat demikian kalau tidak semua state mengizinkan notarisnya memberikan sertifikasi terhadap paspor asing?</p>
<p>Saya lapor ke Taxback mengenai masalah ini. Dan mereka heran sekali, karena mereka sudah sering menerima aplikasi ITIN dari student di Texas. Saya sendiri sampe searching lho di internet, mencari tau bener gak sih notaris di Texas tidak boleh mensertifikasi paspor asing? Sejauh yang saya temukan, sepertinya memang benar. Tapi kalau Taxback selama ini sudah sering menerima aplikasi ITIN dari student lain di Texas, itu kemungkinannya adalah, sang notaris bukan memberikan sertifikasi terhadap keaslian dokumen paspor mereka, melainkan sang pemilik paspor membuat pernyataan bahwa fotokopi paspor tsb adalah true copy dari paspor asli. Nah, yang disahkan oleh notaris kemudian adalah pernyataan dari si pemilik paspor tsb, bukan pengesahan mengenai keaslian dokumen. Setelah nanya temen-temen Fulbrighter lain di Texas yang sudah mendapatkan sertifikasi paspor dari notaris, dari deskripsi mereka, sepertinya memang benar sertifikasinya semacam itu.</p>
<p>Dari Taxback sendiri, mereka menyarankan saya untuk menemui notaris lain di luar kampus. Waktu itu saya gak tau kemana harus nyari notaris di luar kampus. Saya pikir saya harus manggil notaris ke rumah dan ngebayar mereka, dan pasti bayarannya mahal sekali. Memikirkan ini, saya jadi males ngurus ITIN. Kebetulan urusan kuliah juga menyita pikiran banget, sehingga masalah ITIN ini sempat saya lupakan. Sampe beberapa hari yang lalu, saya menerima reminder dari Taxback bahwa untuk melanjutkan proses aplikasi ITIN, saya harus mengirimkan semua dokumen yang diminta.</p>
<p>Tapi saya terpikir gimana kalo saya membuat SSN saja. Untuk membuat SSN, saya tidak perlu menyerahkan fotokopi paspor yang disertifikasi oleh notaris. Saya bisa bawa paspor asli saya langsung ke <em>Social Security Administration</em> (SSA) office. Baca-baca di web SSA, selain form dan paspor, saya juga perlu menyerahkan surat work authorization dari sponsor. Saya sudah mendapatkan surat ini dari IIE. Maka saya coba lah pergi ke SSA untuk apply SSN. Ternyata saya harus menyerahkan job offer letter dari kampus. Duh, rese banget sih. Di state lain temen-temen saya bisa mendapatkan SSN tanpa hambatan. Di Texas ribet amat ya, minta dokumen ini itu, gak boleh ada satu pun yang kurang. Ya sudahlah, sepertinya saya memang harus kembali mengurus ITIN, dan berusaha mencari cara gimana mendapatkan sertifikasi notaris untuk paspor saya.</p>
<p>Saya sempat minta saran ke academic advisor, international student advisor, dan IIE advisor (yup, sampe semua advisor terlibat nih) mengenai masalah ini. Saya gak tau dimana harus mencari notaris di luar kampus, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Orang-orang di kampus menyarankan saya pergi ke bank, karena bank menyediakan jasa notaris, dan biasanya gratis kalau kita punya akun disana. Saya coba pergi ke bank, tapi ternyata notaris di bank tidak bisa memberikan sertifikasi terhadap fotokopi sebuah dokumen untuk membuatnya dapat menggantikan dokumen asli. Mereka hanya bisa meresmikan surat-surat pernyataan. Duh, yang ini lebih parah nih. Bukan hanya paspor asing, paspor Amrik pun gak bisa. Notaris di bank menyarankan saya untuk pergi ke kantor pos. Biasanya di kantor pos menyediakan jasa notaris, siapa tau notaris di sana bisa memberikan sertifikasi paspor saya.</p>
<p>Saya kesel banget. Menyebalkan sekali kalo saya harus pergi kesana kemari untuk nyari notaris yang bersedia mensertifikasi paspor asing. Pergi-pergian di Dallas tanpa mobil itu ribet karena frekuensi bis yang jarang (dibanding Jakarta). Saya gak mau pergi ke kantor pos sebelum saya tau pasti bahwa disana saya bisa mendapatkan sertifikasi notaris terhadap paspor saya. Saya cari dulu di internet apakah benar kantor pos menyediakan jasa notaris. Ternyata menurut info di internet, tidak ada. Tapi jasa pengiriman yang lain, seperti UPS, justru menyediakan. Kebetulan di sekitar tempat tinggal saya ada UPS store, saya coba kesana.</p>
<p>Alhamdulillah, notaris di UPS store bersedia mensertifikasi paspor saya. Katanya, selama dia sendiri yang membuat salinan dari sebuah dokumen, dan sertifikasi yang diberikan hanya menyatakan bahwa salinan tsb adalah true copy dari original document, bukan menyatakan bahwa dokumen yang disalin adalah benar milik saya, maka dia bisa memberikan sertifikasi. Dan saya cukup membayar $7. Fotokopi paspornya pun dibuat berwarna. Notarisnya pun ramah banget. Tau saya dari Indonesia, dia langsung muji bahwa Indonesia is a beautiful country. Katanya dia sering melihat foto-foto Indonesia di internet dan kagum dengan keindahan alam Indonesia. Dia belum pernah ke luar negeri selain ke Canada, tapi Canada membosankan. Ya iya lah, buat orang Amrik, Canada membosankan. Sama aja kayak orang Indonesia ke Malaysia. <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Heran juga ya, kenapa notaris yang ini bisa mensertifikasi paspor asing, tapi notaris di kampus nggak bisa? Padahal sama-sama di Texas. Atau mungkin notaris yang ini gak tau kalau sebenarnya dia gak boleh mensertifikasi paspor asing? Entahlah, saya gak peduli. Yang penting saya bisa mendapatkan sertifikasi paspor saya. Hari itu juga (akhir November) saya kirim semua dokumen aplikasi ITIN saya ke Taxback.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/fulbright/membuat-itinssn/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Apa di Amerika?</title>
		<link>http://www.elvini.net/serpihan/makan-apa-di-amerika</link>
		<comments>http://www.elvini.net/serpihan/makan-apa-di-amerika#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 02:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Tadinya saya pikir di Amerika bakal makan Western food tiap hari. Roti, burger, hot dog, pizza, Spaghetti, Lasagna, dsb. Pokoknya gak bisa sering2 ketemu nasi deh. Tapi, Amerika emang komplit, ternyata makan nasi di sini bukan hal yg mewah. Beras ada, harganya pun gak mahal. Kebetulan pas baru dateng, saya tinggal di rumah teman yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadinya saya pikir di Amerika bakal makan Western food tiap hari. Roti, burger, hot dog, pizza, Spaghetti, Lasagna, dsb. Pokoknya gak bisa sering2 ketemu nasi deh. Tapi, Amerika emang komplit, ternyata makan nasi di sini bukan hal yg mewah. Beras ada, harganya pun gak mahal. Kebetulan pas baru dateng, saya tinggal di rumah teman yg orang Indonesia, jadi ya tiap hari makan masakan Indonesia terus. Bumbu2 masak juga gak susah dicari. Cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, rempah2, tapioca, bisa dicari di Asian store. Kalo males ngeracik bumbu sendiri, bumbu2 instan juga ada, untuk bikin nasi goreng, ayam goreng, rendang, rawon, soto, sambal goreng ati, lengkap deh. Gak ketinggalan mie instan, saos sambel, dan kecapnya.</p>
<p>Lalu untuk daging dan keju, karena kalo beli di supermarket biasa dapat dipastikan tidak halal, maka saya beli khusus di toko halal milik orang Arab. Biasanya kalo ke sana saya akan membeli daging, entah itu ayam, sapi atau kambing, dalam jumlah banyak sekaligus buat persediaan sebulan. Karena di apartemen peralatan dapurnya sudah tersedia lengkap, jadi saya bisa masak sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, gak perlu beli makan di luar.</p>
<p>Yang agak kebarat2an paling breakfast dan cemilannya aja. Di sini tiap pagi saya sarapan waffle atau cereal, plus kopi susu tentunya. Lalu krn es krim, permen, dan coklat murah, di kulkas juga selalu tersedia cemilan2 ini. Pas awal2, tiap malem saya makan es krim, pake topping coklat yg rasanya mirip coklat Sundae di McD. Tapi lama2, tiap hari makan es krim terus bosen juga. Jadi sekarang cuma cemilan2 coklat aja yg ada di kulkas.</p>
<p>Tentang makanan halal, untungnya di Amerika ini banyak orang Yahudi. Seperti kita ketahui, Yahudi juga punya pantangan makanan yg mirip dengan pantangan makanan dalam Islam (ya iyalah, tadinya juga satu sumber <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). Dalam agama Yahudi dikenal istilah &#8220;kosher&#8221;. Kosher dalam Yahudi sama dengan halal dalam Islam. Kebanyakan makanan yg dianggap kosher oleh orang Yahudi juga halal buat Muslim, jadi sedikit banyak makanan kosher bisa menjadi pengganti makanan halal buat Muslim. Misalnya, Yahudi juga tidak boleh makan babi, krn termasuk hewan yg non kosher. Lalu hewan yg disembelih tidak mengikuti tata cara menurut standar &#8220;kashrut&#8221; juga tidak dianggap kosher, dan tata cara penyembelihan ini hampir sama dengan di Islam, harus diawali dengan menyebut nama tuhan dan sekali tebas. Bahkan dalam hal daging, pantangan di Yahudi ini lebih ketat lho daripada Islam. Beberapa makanan yg dianggap halal dalam Islam, justru tidak kosher buat orang Yahudi.</p>
<p>Sebaliknya ada juga makanan yg dianggap kosher oleh Yahudi, tidak halal menurut Islam. Misalnya gelatin dianggap kosher, gak peduli asalnya dari hewan yg kosher atau nggak. Walaupun alkohol dianggap tidak kosher, tapi anggur dianggap kosher. Keju juga, semua keju bagi Yahudi dianggap kosher, walaupun dibuat menggunakan enzim yg tidak kosher. Sementara bagi Islam, kalo enzimnya tidak halal, kejunya akan jadi haram.</p>
<p>Bagaimana cara mengetahui makanan yg kita beli kosher atau tidak? Perhatikan saja simbol <strong>K</strong> atau <strong>U</strong> dalam kemasan makanan tsb. <strong>K</strong> adalah simbol kosher yg biasanya diklaim sendiri oleh perusahaan pembuat makanan tersebut. Simbol <strong>U</strong> dalam lingkaran, adalah sertifikat kosher dari Union Orthodox Congregations, salah satu lembaga ternama di Amerika yg menetapkan standar ke-kosher-an makanan. Kalo di Indonesia, mungkin seperti MUI memberikan sertifikat halal kali ya. Selain itu biasanya juga ada simbol2 lain yg menyertai simbol kosher, seperti:</p>
<ul>
<li><strong>D</strong> (dairy): menunjukkan makanan tsb mengandung susu dan turunannya</li>
<li><strong>M</strong> (meat): menunjukkan makanan tsb mengandung daging dan turunannya</li>
<li><strong>F</strong> (fish): menunjukkan makanan tsb mengandung ikan dan turunannya</li>
<li><strong>P</strong> menunjukkan makanan tsb kosher untuk Passover (hari raya Paskahnya umat Yahudi) dan sepanjang tahun</li>
<li><strong>Pareve/parev/parve</strong> menunjukkan makanan tsb tidak mengandung susu ataupun daging</li>
</ul>
<p>Di Amerika banyak tersebar kosher market, jadi lebih mudah mencari makanan kosher. Muslim boleh kok ikutan belanja di kosher market. Oh ya, jangan salah, bukan cuma berlogo kosher, beberapa makanan juga ada yg berlogo halal lho! Karena sebenarnya kan buat perusahaan menguntungkan juga kalo mereka menjual makanan halal, karena semua orang bisa makan, Muslim maupun non Muslim. Kalo bosen makan di rumah dan sekali2 pengen makan di luar juga bisa cari restoran Arab atau Bangladesh yg insya Allah 100% halal. Jadi, gak susah kan cari makanan halal di Amerika?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/serpihan/makan-apa-di-amerika/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliah di UTD</title>
		<link>http://www.elvini.net/utd/kuliah-di-utd</link>
		<comments>http://www.elvini.net/utd/kuliah-di-utd#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 19:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[UTD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Dari sejak masih di Indonesia, saya sudah mengukur2 melalui Google Earth bahwa calon kampus saya di Amerika itu relatif kecil, gak jauh beda dengan ITB. Dan setelah saya nyampe sini, ternyata benar dugaan saya. Boleh dibilang kampus UTD ini = kampus ITB + Apartment dan Parking Lot. Dari ujung utara ke selatan, barat ke timur, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sejak masih di Indonesia, saya sudah mengukur2 melalui Google Earth bahwa calon kampus saya di Amerika itu relatif kecil, gak jauh beda dengan ITB. Dan setelah saya nyampe sini, ternyata benar dugaan saya. Boleh dibilang kampus UTD ini = kampus ITB + Apartment dan Parking Lot. Dari ujung utara ke selatan, barat ke timur, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Udah gitu layoutnya juga persiiiis banget dengan kampus ITB. Di bagian tengah membujur dari utara ke selatan adalah area berjalan kaki yg di sepanjang jalannya ada kolam dan pepohonan. Jadi kayak boulevard gitu. Di tengah2 kampus juga ada air mancur. Ini mengingatkan saya dengan kolam Indonesia tenggelam di ITB. Kalo lagi jalan di sepanjang boulevard ini, saya serasa sedang berjalan di kampus ITB saja.<br />
Memang UTD ini kampus yang kecil, karena tidak semua jurusan ada di sini. Sebagai bagian dari Texas university system, UTD hanya berspesialisasi di bidang2 tertentu saja. Kalo yang semua jurusan ada ya di University of Texas at Austin. Tapi, saya sudah pernah kuliah di kampus yang kecil seperti ITB, kemudian di kampus yang super luas seperti Universiti Putra Malaysia (UPM), terus terang saya lebih suka kampus yg kecil. Di UPM, gedung Fakulti Engineering, Graduate Student Office, library, Administration building, International Student Office, letaknya mencar2 dan terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Ribet deh kalo ada urusan yg mesti kesana kemari. Naek bis bisa berjam2 krn jadwalnya yg jarang2 plus rutenya yg muter2 dan mesti nyambung2. Di UTD, seperti halnya di ITB, semuanya terkumpul di satu kompleks. Mulai dari Registrar Office, Student Health Center, International Student Office, Student Union, Library, Book Store, sampe ke Green Hall, gedung tempat saya kuliah. Nyaman lah pokoknya, pedestrian friendly. Banyak juga yg sepedaan atau pake skateboard. Saya seneng banget kembali kuliah di kampus yg kecil seperti ini.<br />
Lalu ternyata kuliah di sini malah lebih nyantai daripada waktu saya kuliah di Malaysia. Kalo di UPM mahasiswa punya Matric card sbg tanda pengenal, di UTD tanda pengenal tsb adalah Comet card (KTM lah kalo di Indonesia). Tapi di sini, student gak wajib pake kartu pengenal kemana-mana selama di kampus maupun ketika naik bis, seperti halnya di UPM. Soal pakaian juga, gak ada dress code khusus, pake apa aja boleh. Kalo pas Summer dan Fall gini malah banyak yg pake celana pendek selutut, termasuk dosen2nya. Tapi, sejauh yg saya amati, tetep aja kalo ngajar mereka pake baju formal sih.<br />
Semester ini saya ngambil 3 kuliah, GIS Modelling, Image Processing, dan Statistics for Geoscience. Karena semua kuliah yg saya ambil itu ada praktikumnya, kita kuliahnya langsung di lab. Untuk GIS Modelling, kita pake tool ArcGIS 10 dan SAS, untuk Image Processing pake ERDAS Imagine dan ENVI, untuk Statistics for Geoscience pake Wolfram Mathematica. Jadi kuliah sambil ngadepin komputer. Kalo ada yg perlu dites bisa langsung dites saat itu juga. Gak perlu kertas lagi buat nyatet point2 yg disampaikan dosen, langsung aja diketik. Di lab ini juga tersedia printer laser yg boleh digunakan oleh student, gratis, cuma perlu modal kertas. Dan semua ruangan lab dilengkapi CCTV, jadi jangan coba2 ya nyontek pas ujian atau browsing situs yg aneh2 pas jam kuliah, ada kamera yg mengawasi di depan dan di belakang anda, hehe…<br />
Kuliah di sini terorganisir sekali. Di pertemuan pertama, setiap dosen pasti menyerahkan silabus materi yg akan disampaikan di setiap minggunya, sekaligus jadwal presentasi, pengumpulan assignment atau projek, dan ujian. Jadi kita bisa ngatur kegiatan kuliah kita dengan kegiatan yg lain. Kita juga bisa prepare mempelajari materi2 kuliah sebelum diajarkan di kelas. Tugas tidak dikerjakan dadakan, belajar buat ujian pun bisa dicicil. Masalahnya cuma satu, textbook yg mahal! Untuk kuliah Statistik dan Image Processing, buku yg dipakai itu versi hard cover semua yg harganya di atas $100! Tapi textbook ini wajib punya karena memang dipakai dalam perkuliahan. Dan jangan harap kita bisa motocopy full satu buku seperti di Indonesia, gak ada tempat fotocopy yg mau melakukan hal itu karena termasuk pelanggaran copyright. Kalo tentang software, untuk keperluan kuliah, kita bisa menggunakan student license yg hanya berlaku untuk jangka waktu tertentu, ada yg 6 bulan, ada yg setahun. Ada yg gratis sama sekali, ada yg harus bayar juga tapi dengan harga yg murah sekali. Affordable lah buat kantong mahasiswa.<br />
Saat belajar di kelas, mahasiswa harus aktif berpartisipasi. Di sini kuliah gak pernah diabsen, tapi tetep saja mahasiswa rajin masuk kuliah dan stay di kelas dari awal sampe akhir (gak kayak mahasiswa Indonesia yg suka abis absen terus keluar kelas, dan gak balik lagi <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ) Jadi kehadiran itu dinilai dari keaktifan kita di kelas. Kalo dosen melemparkan pertanyaan, kita harus aktif menjawab. Mula2 saya agak canggung juga sih menjawab2 seperti ini. Di Indonesia, kalo ngejawab pertanyaan terus jawabannya bener, kesannya pamer. Kalo jawabannya salah, tengsin. Di sini gak ada tuh kesan seperti itu. Lama2 saya terbiasa juga aktif menjawab pertanyaan2 dosen, kadang jawabannya bener, kadang suka salah juga. Tapi ya biarin aja, gak usah tengsin. Yang penting aktif.<br />
Kuliah di sini juga on time sekali. On time masuk dan juga on time bubar. Biasanya 5-10 menit sebelum jam kuliah, dosen sudah masuk ke ruangan, sudah menyiapkan perangkat mengajar, sehingga begitu teng jamnya, bisa segera dimulai. Terlambat 5 menit aja, saya udah gak berani masuk. Pas bubar juga gitu, 5 menit sebelum jam kuliah selesai, dosen sudah menutup kuliahnya, supaya mahasiswa juga punya waktu untuk berkemas2, menutup program2 yg sedang dikerjakan di komputer dan tidak lupa log off. Tapi bukan hanya dalam hal kuliah aja sih orang Amerika on time. Kalo kita diundang acara ke rumah orang juga harus on time, jangan terlambat, jangan juga terlalu cepat (khawatir yg punya rumah belum siap).<br />
Enaknya, hampir semua quiz dan ujian open book. Jadi malah tidak sesulit waktu saya kuliah di Malaysia dulu. Di UPM, semua ujian close book. Kebayang gak sih, kuliah GIS, Remote Sensing, GPS, bahkan Geostatistics, semua harus hapal di luar kepala. Di sini dosen tidak menekankan pada hapalan, jadi memang tidak masalah kalau kita buka buku. Bahkan ujiannya pun ada yg take home test. Wah, kalau di Indonesia pasti udah gotong-royong dan nge-geng nih ngerjainnya. Di sini luar biasa sekali. Dalam mengerjakan tugas, kuiz, maupun test, mahasiswa sangat menghindari cheating. It is a shameful thing to do, sehingga walaupun ada kesempatan dan tidak ada yg mengawasi, tetap saja mahasiswa enggan berbuat curang. Dan kalo sampe ketahuan, hukumannya bisa langsung ditendang dari kuliah yg bersangkutan, alias dianggap tidak lulus! Makanya setiap mengumpulkan assigment atau test, kita harus menanda-tangani pernyataan bahwa pekerjaan ini murni dibuat oleh kita sendiri, tidak mengcopy atau plagiat dari pekerjaan orang lain.<br />
Mayoritas international students di UTD berasal dari Cina dan India. Untuk grad students malah boleh dibilang lebih banyak foreigners daripada orang Amerika sendiri. Para Teaching Assistant (TA) juga kebanyakan mahasiwa Cina atau India. Bahkan dosen2nya pun banyak yg foreigners. Menurut info dari temen saya, dosen di program GIS sendiri, cuma 3 orang yg American. Kalo untuk undergraduate student memang sih lebih banyak yg Americannya. Perbandingan jumlah mahasiswa Undergrad dan PostGrad adalah 2:1. Mahasiswa muslimnya juga lumayan, umumnya dari Turki, Bangladesh, Arab Saudi dan negara2 timur tengah lainnya.<br />
So far, saya enjoy lah kuliah di sini, walaupun gak ada temen sesama mahasiswa dari Indonesia, tapi banyak temen dari negara lain yg sama2 merantau juga di Amerika ini. Dosen2nya juga ramah2. Pas awal semester, bahkan ada dosen GIS dari Jerman yg mengundang makan2 di rumahnya, sekedar untuk meberikan ungkapan selamat datang ke mahasiswa baru dan menjalin kekompakan di kalangan dosen, staf, dan mahasiswa program GIS. Baik banget kan dosen ini. Yah, semoga saja kuliah saya di sini lancar dan bisa lulus tepat waktu, supaya tidak sia2 pengorbanan tinggal jauh dari rumah, bisa pulang membawa hasil. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/utd/kuliah-di-utd/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Settling in Living Place at Dallas</title>
		<link>http://www.elvini.net/serpihan/settling-in-living-place-at-dallas</link>
		<comments>http://www.elvini.net/serpihan/settling-in-living-place-at-dallas#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 15:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya sejak masih di Indonesia, saya sudah apply apartment di on-campus housing. Di kampus saya cuma ada 2 housing, University Village dan Waterview Park. Karena UTD tergolong kampus yg kecil, emang enak sih tinggal di kampus, ke tempat kuliah bisa jalan kaki. Saya sudah apply on-campus housing sejak bulan Juni. Rupanya saat itu udah terlambat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya sejak masih di Indonesia, saya sudah apply apartment di on-campus housing. Di kampus saya cuma ada 2 housing, University Village dan Waterview Park. Karena UTD tergolong kampus yg kecil, emang enak sih tinggal di kampus, ke tempat kuliah bisa jalan kaki. Saya sudah apply on-campus housing sejak bulan Juni. Rupanya saat itu udah terlambat karena pada akhirnya saya tidak bisa mendapatkan kamar sampai Fall semester dimulai. Terpaksa ketika sampai di Dallas, saya harus cari2 apartemen dulu.<br />
Tapi, terima kasih Tuhan yg telah melancarkan urusan saya. Di UTD ada satu mahasiswa PhD yg juga dari Indonesia, namanya Herurisha. Dia di sini tinggal bersama istrinya, Prias, dan anaknya yg baru berumur 4 tahun, Rafi. Berkat Prias dan keluarga, saya punya tempat tinggal sementara di Dallas ini. Memang Tuhan Maha Besar. Hari pertama saya dateng ke sini, nyari2 apartemen di Ashwood Park, kompleks apartemen dimana Prias dan keluarga tinggal, kok ya langsung dapet. Padahal krn saya datengnya udah telat banget, Prias bilang hampir semua apartemen sudah penuh. Kalo pagi sudah banyak student UTD yg menunggu bis di bus stop depan apartemen. Saya udah siap2 aja hari itu harus ngedatengin leasing office beberapa apartemen untuk bisa ketemu satu yg masih kosong. Eh, di leasing office pertama yg saya datengin, langsung dapet. Walaupun apartemennya baru bisa ditempatin tanggal 2 September sih. Jadi sampai tanggal itu saya tinggal di rumah Prias dulu. Gak papalah harus nunggu dulu, segitu juga udah syukur bisa dapet.<br />
Apartemen saya ini deket banget dengan apartemennya Prias, gedungnya sebelahan. Dan setelah pindah, baru saya bisa ngeliat dalemnya. Wow, ternyata luas banget! Terlalu besar untuk ditempatin sendiri. Tapi apa daya, cuma ini yg kosong waktu saya apply. Lagipula harganya juga masih reasonable. Sebenarnya cost bulanannya tergolong mahal, tapi krn saya sewa pake minimum contract langsung 7 bulan, saya dapet potongan biaya plus student discount. Setelah diitung2 cost per bulannya jadi jauh lebih murah, masih masuk lah dalam range monthly stipend yg diberikan oleh Fulbright.<br />
Ini adalah apartemen one bed-room dan one bath-room. Ada living roon, dining room, balkon, dan dapur. Apartemen ini tidak dilengkapi dengan furniture, tapi sudah dilengkapi dengan kitchen set seperti kompor listrik, kulkas, microwave, oven, dan dishwasher. Udah komplit banget kan? Saya bisa masak makanan sehari2, bisa bikin kue. Ruangannya sudah dilengkapi AC yg dapat berfungsi sebagai cooler maupun heater. Tapi di living room juga ada perapiannya, in case the heater doesn’t work properly during winter. Waktu baru masuk, satu2nya furniture yg saya punya adalah queen-size bed, yg baru saya beli setelah pindah. Melihat living room dan dining room yg cukup luas, saya berpikir mungkin nanti saya akan beli TV dan sofa untuk diletakkan di living room. Plus, Prias katanya mau ngasih meja kalo dia dan keluarganya pindah ke Houston bulan Oktober nanti. Asyiiik, jadi gak sayang nih apartemen segede gini, gak dibiarin kosong melompong. <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Ditinjau dari lokasi juga strategis. Apartemen ini terletak pada jalur shuttle busnya UTD, jadi walau ke kampus harus naik bis, saya gak perlu keluar biaya transportasi sama sekali. Frekuensi shuttle bus tsb juga lumayan sering, 15 menit sekali. Kecuali hari sabtu yg cuma sejam sekali. Kalo naik mobil pribadi, paling juga 5 menit dah nyampe kampus. Tapi kalo naik bis, karena berenti2, sekitar 15 menit perjalanan ke kampus. Lumayan deket kan? Dari apartemen ke bus stop pun deket banget, karena apartemen saya langsung menghadap ke jalan raya, cuma dipisahkan oleh tempat parkir aja ke jalan. Bis shuttle tsb juga melewati kompleks grocery stores, seperti Target, untuk belanja keperluan sehari2, dan Staples, untuk belanja peralatan komputer. Juga ngelewatin Bank Wells Fargo, teman dimana saya buka bank account, jadi gampang juga kalo ada urusan ke Bank. Khusus hari Jumat bis shuttle juga melewati Walmart, another grocery store besides Target.<br />
Karena saya ngerasa apartemen ini luas banget, sebenarnya saya berencana untuk pindah ke apartemen yg lebih kecil dan lebih murah kalo kontrak saya abis nanti. Tapi dipikir2, apartemen ini sudah ideal banget. Dari segi harga, lokasi, kenyamanan, semua OK. Di housing campus, apartemen one BR kayak gini harganya jauh lebih mahal, bisa selisih $200an, itu pun lebih kecil. It seems I have no reason to move out. Lagipula di US ini sebaiknya kita punya established address, biar gampang urusan apa2, dengan bank, electric company, internet, SSN, driving license, dsb. Kalo kita terus ganti2 alamat, ribet mesti ngupdate data di sana-sini, belum mesti transfer layanan listrik dan internet. Yah, semoga saja saya betah di apartemen ini, sehingga memang tidak perlu pindah sampai kuliah saya selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/serpihan/settling-in-living-place-at-dallas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Journey to the Land of Dreams</title>
		<link>http://www.elvini.net/fulbright/the-journey-to-the-land-of-dreams</link>
		<comments>http://www.elvini.net/fulbright/the-journey-to-the-land-of-dreams#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 04:28:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Setelah 3 hari nyampe, akhirnya baru sekarang punya kesempatan nulis cerita perjalanan dari Jakarta ke Dallas kemaren. Saya dateng dah mepet banget sih. Malam ini nyampe, besoknya udah mesti ngurus urusan administrasi di kampus, harus ikut orientasi, bahkan sekarang udah harus kuliah. Belum sempet jadi turis nih di Amrik! Rute penerbangan saya sebenarnya adalah Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah 3 hari nyampe, akhirnya baru sekarang punya kesempatan nulis cerita perjalanan dari Jakarta ke Dallas kemaren. Saya dateng dah mepet banget sih. Malam ini nyampe, besoknya udah mesti ngurus urusan administrasi di kampus, harus ikut orientasi, bahkan sekarang udah harus kuliah. Belum sempet jadi turis nih di Amrik!</p>
<p>Rute penerbangan saya sebenarnya adalah Jakarta -> Tokyo (Narita) -> Los Angeles -> Minneapolis -> Dallas. Penerbangan pertama, dari Jakarta ke Tokyo, banyak barengan temen2 Fulbrighter lainnya. Ada Dian Kusuma, Dwi Rivami, Ida Ansharyani, Pak Leo, Buldan, Ayu Diasti, Yu Un Oppusunggu, dan Samuel Rompis. Tapi dari Narita ke LA, cuma satu yg bareng saya, yaitu Dwi Rivami. Pak Leo juga ke LA sebenarnya, tapi dia pake UA, sedang saya dan Dwi naik Delta. Jadwal penerbangannya pun tidak bersamaan, so kita gak ketemu lagi setelah dari Narita.</p>
<p>Perjalanan dari Jakarta ke Tokyo lancar. Kita semua satu pesawat, naik Garuda. Berangkat jam 11 malem, nyampe Tokyo jam 9 pagi. Duduknya juga deket2an, kecuali beberapa orang yg cek-innya gak bareng. Oya, setelah menimbang2 akhirnya saya memutuskan untuk tidak berpuasa saja, khawatir dehidrasi. Lagipula musafir kan, dapet keringanan <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Insya Allah nanti bisa dibayar di waktu yg lebih lapang. Jadi walaupun mbak2 pramugarinya berbaik hati menanyakan apakah saya ingin sahur, saya jawab tidak. Minta disediakan makan di jam sarapan aja bareng penumpang yg lain.</p>
<p>Sampe Tokyo, airport Narita masih sepiii banget. Rupanya sebagian besar yg satu pesawat dengan kita itu orang Jepang yg pada balik. So yg lanjut ke international connecting flight cuma segelintir, kebanyakan ya rombongan kita ini. Setelah melewati pemeriksaan, kita pergi ke terminal 1 naik bis airport. BTW, this is the first time I set my foot in Japan!</p>
<p>Di airport Narita kita nunggu cukup lama karena penerbangan berikutnya rata2 pada sore, ada yg jam 3.30 ada yg jam 4. Tapi gak bosen kok. Di lounge2 airport ada kursi2 panjang yg bisa buat tiduran. Saya sempet tidur juga di sini. Tapi yg paling penting, saya sempet mandi dong! Tahukah anda bahwa di airport Narita ini tersedia fasilitas Shower dan Day Room untuk mandi atau sekedar tidur2an di kasur? Untuk shower doang, biayanya $14 per 30 menit. Gila, ini mandi termahal yg pernah saya lakukan! Tapi ya, wortel lah. Habis mandi itu, saya ngerasa fresh lagi, siap meneruskan penerbangan berikutnya. Kayak batere baru dicharge deh. Di antara rombongan yg bareng dari Jakarta ke Narita, cuma saya, Dian dan Ayu nih yg sangat memikirkan higienis dan sudah persiapan bawa baju ganti dan perlengkapan mandi untuk mandi di perjalanan yg panjang ini.</p>
<p>Pokoknya di Narita itu saya bikin senyaman mungkin kayak lagi di rumah. Mandi, makan, sholat. Kebetulan di lounge ada pojok2 ruangan yg cukup bersih dan sepi. Bisalah kita gelar sajadah sholat di situ. Untuk tau arah kiblat, saya juga sudah membawa kompas. Saking lamanya kita nunggu di airport, saya sampe apal sudut2nya krn selama nunggu itu kita bolak-balik di sekitar situ aja, gak boleh keluar airport. Sore hari, tibalah saatnya untuk berpencar. Tinggal Dwi saja yg jadi temen seperjalanan saya ke LA. Sayang krn kita cek-in udah telat, kita gak bisa minta dikasih tempat duduk yg sebelahan, dan dapet tempat duduk yg terpisah jauh. Saya di depan, Dwi di belakang. Hiks&#8230; Mana perjalanannya lama, 10 jam lebih. Ya sudahlah, mau gimana lagi. Tiga orang yg duduk satu baris dengan saya kebetulan orang Jepang semua.</p>
<p>Nyampe di LA jam 9 pagi di hari yg sama. Sepanjang perjalanan ke LA saya berusaha untuk tidur, gak terlalu menikmati hiburan movie. Tapi gak berhasil juga. Saya gak bisa tidur nyenyak di pesawat, padahal udah minum antimo. Anyway, sebagai port of entry, di LA inilah kita harus menembus imigrasi dan custom, dua hal yg tadinya sangat ditakutkan. Takut gak boleh masuk lah, takut kopernya dibuka2 lah, atau ada barang2 yg disita dan harus dibuang. Syukur alhamdulillah, ternyata semuanya berjalan mulus. Imigrasi lancar, finger prints &#038; scan retina, custom juga gak pake acara digeledah. Mungkin krn saya dan Dwi merupakan penumpang terakhir yg diperiksa, petugas2nya udah males kali meriksa secara detil. Di custom cuma ditanya bawa fresh fruits nggak. Dijawab nggak, ya udah, dipersilakan aja lewat dan kopernya discan.</p>
<p>Nah, mulai dari LA ini nih masalah demi masalah saya temui. Rute penerbangan saya selanjutnya harusnya ke Minneapolis, dan koper2 saya juga sudah ditag sampe tujuan ke Minneapolis. Jadi oleh petugas Delta di LA, koper2 saya langsung dikirimkan lagi ke bagasi untuk penerbangan ke Minneapolis. Saat itu saya belum punya boarding pass. Ketika saya cek-in untuk minta boarding pass, barulah ketahuan bahwa ternyata pesawat dari Minneapolis ke Dallas Fort Worth (DFW) hari itu ditiadakan. Yaaah&#8230; jadi ngapain saya ke Minneapolis? Oleh Delta lalu rute perjalanan saya diubah jadi ke Salt Lake City (SLC), lalu nyambung ke DFW. Masalahnya, bagasi saya udah terlanjut dikirim ke penerbangan Minneapolis. Jadi gimana nih? Petugasnya sudah mengirimkan pesan ke pihak2 terkait untuk memberitahukan perubahan tujuan bagasi saya. Tapi dia gak jamin bisa keburu diproses. Apakah bagasi saya terkirim ke penerbangan yg benar, itu baru bisa dicek kalau saya sudah sampai di tujuan akhir, yaitu di DFW.</p>
<p>Huahh&#8230; lemes banget deh saya saat itu, ngebayangin tas saya entah bisa nyampe apa nggak ke Dallas. Padahal saya seneng juga rute penerbangannya diubah jadi lewat SLC, krn emang jadi lebih deket, nyampe ke DFWnya juga lebih cepet, jam 8 malem, dibanding rute semula lewat Minneapolis yg baru nyampe DFW jam 12.30 dini hari. Untunglah saya membawa semua dokumen2 penting di badan. I&#8217;ve prepared for the worst, somehow I&#8217;ve expected that something like this will happen.</p>
<p>Di LA sini, saya dan Dwi harus berpisah. BTW, saking badan udah capek banget sekian jam menempuh perjalanan jauh, stress krn penerbangan yg dihapus (walau akhirnya diganti), plus cemas krn masalah koper yg salah masuk bagasi, saya sampe gak nyadar bahwa saya sudah di Amerika lhooo! This is Los Angeles, maaann&#8230;! Setelah agak tenang, saya mulai memperhatikan sekeliling saya. Suasana di airport LA saat itu hectic banget, banyak orang seliwar-seliwer narik2 travel bag. Hiruk-pikuk lah pokoknya! Sayang gak sempet keluar airport krn penerbangan saya berikutnya cukup mepet.</p>
<p>Masalah yg saya temui tdk berhenti sampai di koper yg nyasar, tapi juga penerbangan ke SLC yg entah kenapa terlambat sejam. Padahal penumpang masuk pesawat on time. Masalahnya adalah, jarak waktu tiba di SLC, dan penerbangan saya berikutnya ke DFW, itu cuma 40 menit. Nah, kalo penerbangan ke SLC-nya aja telat sejam gini, dapat dipastikan saya akan ketinggalan pesawat yg ke DFW. Dan memang itulah yg terjadi. Tapi tenang, I&#8217;m not alone, hampir separuh penumpang pesawat ke SLC ini juga akan melanjutkan penerbangan berikutnya yg layover timenya juga kurang dari sejam. Di sini saya salut banget dengan layanan dari Delta. Mereka tanggung jawab banget keterlambatan ini disebabkan oleh mereka, bukan oleh penumpang. So, setelah melapor saya segera dicarikan penerbangan pengganti ke DFW yg 3 jam lebih lambat. Jadi, harusnya saya naik pesawat yg berangkat jam 5, jadi naik yg berangkat jam 8 malem. Mereka juga ngasih voucher meal seharga $12 untuk saya beli makan di lingkungan airport. Tentu saja tidak saya sia2kan voucher ini, krn di penerbangan LA -> SLC yg cuma 2 jam kebetulan gak dapet makan.</p>
<p>Masalah berikutnya, krn berangkat dari SLC udah jam 8 malem, jam 11.40 malem baru saya bisa nyampe Dallas. Sebenarnya perjalanannya cuma sekitar 2,5 jam, tapi krn waktu Dallas lebih cepat sejam dari SLC, tambah malem aja deh jam tibanya. Krn udah malem gini, temen saya yg mau jemput juga udah gak berani jemput. Pilihan saya cuma: nunggu di airport DFW sampe subuh untuk dijemput, atau saya pergi sendiri naik taksi. Terus terang krn saya gak bisa tidur nyenyak di pesawat, saya ngantuuuuk banget. Pengen cepet2 nyampe, cepet2 tidur. Lagipula besoknya banyak yg harus saya kerjakan, ada janji ketemuan dengan advisor jam 10 pagi. Kalo subuh baru nyampe, kapan istirahatnya? So, saya memutuskan pulang sendiri saja naik taksi. Mohon perlindungan pada Tuhan supaya saya diberi keselamatan sampai di tujuan.</p>
<p>Oya, urusan koper, ketika sampai di airport DFW, benar saja, setelah saya menunggu sampe semua koper keluar di carousel, koper saya tidak ada. Segera saya melakukan baggage claim. Krn sudah menduga bahwa koper saya tidak akan ikut terbawa oleh saya ke DFW, ketika melapor itu saya lumayan nyantai juga ngomong, &#8220;I think I&#8217;ve lost my luggages. I&#8217;m afraid they&#8217;re sent to the wrong flight.&#8221; As if it is something no big deal at all. Tapi ketika petugasnya ngecek nomor bagasi saya, dia bilang koper2 saya akan nyampe ke DFW besok pagi. Dikirim dari DFW ke alamat siang hari, jadi mungkin sore hari udah nyampe apartemen tempat saya tinggal sementara di Dallas ini. Huahh&#8230; lega deh!</p>
<p>So, tanpa koper di tangan, gak ada yg jemput, saya pun meninggalkan airport naik taksi. Thanks God, saya bertemu orang2 baik di Amerika sini. Supir taksi yg nganterin saya itu orang kulit hitam. Dia juga gak tau lokasi alamat tujuan saya. So, dia bersedia repot2 berenti dulu di jalan untuk nyari alamat saya ini di peta kota Dallas yg kayak buku Peta Gunther. Hebat lah supir taksi ini bawa2 buku peta kayak gini. Setelah ngecek di peta, baru dia bisa menemukan alamat itu di GPS. So, dia pake GPS untuk memandu perjalanan kita dari DFW ke Richardson, yg menurutnya cukup jauh. Pas nyampe juga dia nemenin saya sampe ketemu apartemen yg dicari, baru dia pergi. Baik banget lah pokoknya, padahal saya udah takut aja, pulang tengah malem, di negeri orang, sendirian, bareng supir taksi yg tampangnya nyeremin gini. Benar memang, kita tidak boleh menilai orang dari luarnya.</p>
<p>Penerbangan Jakarta -> Tokyo dan Tokyo -> LA, saya naik pesawat yg besar dengan hiburan yg OK punya. Dari LA ke SLC, mulai turun kasta ke pesawat yg lebih kecil, spt yg biasa saya tumpangi dalam perjalanan Jkt-KL. Udah gak ada hiburan movie di sini. Dari SLC ke DFW, lebih kecil lagi pesawatnya. Saya belum pernah naik pesawat sekecil ini, yg kursinya cuma 2-2, dah kayak bis malem aja <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Kapasitasnya juga cuma sedikit. Tapi syukurlah, akhirnya saya bisa nyampe Dallas dengan selamat. Koper2 saya juga akhirnya dikirimkan ke saya dalam keadaan utuh, tidak ada yg kurang sedikit pun, padahal gak digembok. Oya, tapi salah satu koper rupanya ada yg dibongkar oleh TSA. Segel dari bandara Sutta udah kebuka. Ketika saya liat di dalem koper ada notice dari TSA bahwa koper saya telah diinspeksi. Kebetulan ini koper yg ada makanannya. Tapi setelah dicek, makanannya gak ada yg disita juga, bahkan susunan isinya gak ada yg berubah. Alhamdulillah, gak sia2 makanan2 tsb dibawa jauh2 dan berat2 dari Indonesia, akhirnya bisa dinikmati juga di Amerika.</p>
<p>In summary, saya menempuh rute Jakarta -> Tokyo -> LA -> SLC -> DFW. Perjalanan dari Jakarta ke Dallas memakan waktu total sekitar 36 jam. Dan selama di pesawat itu saya gak bisa tidur. Kebayang dong capek dan ngantuknya, plus tegang krn masalah2 yg ditemui. But after all, I&#8217;m here now, safe and sound, in the land of dreams, the United States of America!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/fulbright/the-journey-to-the-land-of-dreams/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RIBET SERIBET-RIBETNYA!!</title>
		<link>http://www.elvini.net/fulbright/ribet-seribet-ribetnya</link>
		<comments>http://www.elvini.net/fulbright/ribet-seribet-ribetnya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 10:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berakhir masa2 kecemasan menunggu hasil beasiswa dan admission dari universitas, ternyata perjalanan saya masih panjang untuk benar2 bisa kuliah di Amrik. Sebenarnya dari tgl 8 Maret 2011 lalu saya sudah mendapat admission letter dari University of Texas at Dallas (UTD), univ pilihan utama saya. Dan sebenarnya pula, ada 3 univ lagi yg nerima saya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah berakhir masa2 kecemasan menunggu hasil beasiswa dan admission dari universitas, ternyata perjalanan saya masih panjang untuk benar2 bisa kuliah di Amrik.</p>
<ol>
<li>Sebenarnya dari tgl 8 Maret 2011 lalu saya sudah mendapat admission letter dari University of Texas at Dallas (UTD), univ pilihan utama saya. Dan sebenarnya pula, ada 3 univ lagi yg nerima saya. Tapi kok ya, di antara 4 univ yg nerima itu, pas univ yg saya mau, pas yg budgetnya ada shortfall, alias melebihi Fulbright grant yg dialokasikan untuk saya.<br />
<br/>Sebenarnya masalah ini bisa diatasi dengan mudah kalo aja saya gak banyak gaya dan mau merelakan: pilih aja univ lain yg gak ada shortfall. UNCC misalnya, yg Professor dan calon academic advisornya udah kontak2an dengan saya, dan menunjukkan sikap yg welcome banget untuk nerima saya. Tapi&#8230; gimana yah, milih sekolah tuh kayak milih jodoh sih, kalo gak sreg susah mau nerima. Saya sregnya dengan UTD, dan saya akan sangat menyesal sekali kalau sampai batal kuliah disana hanya krn terkendala masalah shortfall. Apalagi, khusus untuk mendaftar ke program PhD in GIS, waktu itu saya harus menulis essay tambahan. So, udah susah2 perjuangannya supaya bisa keterima di sana, setelah diterima masa mau dilepas begitu aja?<br />
<br/>Shortfall di UTD sebenarnya gak terlalu besar, hanya sekitar USD 1700an. Kata orang Aminef, yg udah2 sih kalo shortfallnya kecil, DIKTI bersedia nanggung. Tapi hingga bulan Mei, belum ada kepastian dari DIKTI. Sementara rekan2 Fulbrighters yg lain sudah dapat placement mau ke universitas mana.<br />
<br/>Saya mulai cemas. Sepertinya saya tidak bisa mengandalkan DIKTI dan harus segera mencari sumber lain untuk menutupi shortfall tsb. Pokoknya, ditanggung DIKTI ataupun tidak, saya tetap akan memilih UTD. Orang Aminef bilang, begitu saya sudah mengkonfirmasi untuk memilih UTD, maka saya harus bisa memberikan bukti kesanggupan mengcover shortfall tersebut. Kalau gagal, maka saya akan gagal mengikuti program beasiswa ini, sebab mereka akan menolak tawaran dari universitas2 lain yg sudah menerima saya. Duh, jangan sampe deh.<br />
<br/>Syukurlah institusi saya bersedia menanggung shortfall tsb dan memberikan surat jaminan ke pihak IIE. Akhirnya, tgl 24 Mei saya dapat mengkonfirmasi pilihan saya ke UTD. Alhamdulillah&#8230;</li>
</ol>
<p>Setelah konfirmasi universitas, maka mulailah keribetan2 (lho, jadi dari tadi belum mulai?) untuk persiapan keberangkatan.</p>
<ol start=2>
<li>Yang namanya mau kuliah ke LN, kita harus melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan. Berdasarkan pengalaman temen2 yg lain, proses medical check-up ini harus bolak-balik ke RS krn kita harus diberi 2 vaksin, dan pemberian vaksin tidak boleh dilakukan sekaligus dalam sehari, takut menyebabkan demam. Maka saya cari RS yg deket rumah aja. Dan memang saya harus 3 kali ke RS tsb. Pertama buat tes urin, tes darah, tes mata, tes tuberkulin (mantoux), foto rontgen, dan vaksin tetanus booster; ke-2 buat vaksin MMR; dan ke-3 ngambil hasilnya. Masing2 selisih 2 hari, jadi sekitar 5 hari baru beres deh urusan medical check-up ini. Ribetnya gak terlalu sih, tapi suntik-menyuntiknya itu lho, ampun deh. Apalagi yg pas suntik MMR, sakiiit!!</li>
<li>
<p>Saya harus meminta Rektor institusi saya untuk menulis surat persetujuan ke Diknas. Duh, heran deh kok masih pake surat persetujuan segala? Padahal dulu (udah setahun yg lalu lho) waktu apply beasiswa kan udah pake surat izin Rektor. Jadi pasti Bapak Rektor sudah tau bahwa kalau saya mendapatkan beasiswa ini, ya tahun ini saya akan berangkat. Kenapa sekarang mesti nulis surat persetujuan lagi?<br />
<br/>Bukan itu aja. Selain ngerepotin Rektor, DIKTI juga meminta saya membuat surat perjanjian dan permohonan pengajuan paspor dinas, padahal saya bukan PNS. Tanya ke orang Aminef, mereka bilang DIKTI mau ngurusin pembuatan paspor dinas tsb. Tapi saya yakin, paling itu orang DIKTInya aja yg males ngebeda2in dosen PNS dan non-PNS. Jadi semua disuruh bikin surat perjanjian dan form pengajuan paspor dinas. Padahal nanti yg bisa dibikinin paspor dinas ya paling hanya dosen yg PNS. Ngerepotin aja kan? Tapi ya sudahlah, saya ikuti aja maunya DIKTI. Saya isi semua berkas yg mereka minta, dan semua sudah saya kirim ke Aminef, untuk kemudian dikirimkan ke DIKTI.</p>
</li>
<li>Untuk tempat tinggal di US, saya berniat mem-booking apartemen di on campus housing. Karena saya lihat jam kuliahnya kebanyakan sore-malem (mungkin kelas post-grad jamnya kebagian sore-malem, krn kuliah pagi-siang buat mahasiswa undergrad), maka saya gak mau cari apartemen yg jauh2, pengennya yg di dalem kampus biar bisa jalan kaki ke tempat kuliah. Nah, untuk apply on campus housing itu syaratnya harus ada bukti vaksin Meningitis. Mereka tidak mau memproses aplikasi housing saya sebelum saya menyerahkan bukti vaksinasi tsb.<br />
<br/>Meskipun udah kenyang suntikan vaksin dan suntikan2 lainnya waktu medical check-up kemarin, OK lah nambah 1 suntikan vaksin lagi saya masih sanggup. Masalahnya, untuk vaksinasi Meningitis ini saya harus memberikan nomor paspor. Nah, soal paspor ini ada keribetan lagi nih. Orang Aminef minta saya untuk memperbaharui paspor krn mereka mensyaratkan paspor saya harus valid minimal 6 bulan setelah 1 tahun program beasiswa. Sementara paspor saya akan expire bulan Maret 2012. Duh, mana waktunya udah mepet gini, pake harus memperpanjang paspor segala. Udah gitu pas long wiken pula shg saya tdk bisa segera mengurus perpanjangan paspor tsb. Sampe2 saya harus bolak-balik dalam sehari itu pergi ke kampus untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Dekan, lalu ke kantor imigrasi Depok, lalu balik lagi ke kampus utk mengajar. Eh, udah dibela2in bolak-balik gini, pas sampe kantor Imigrasi, saat saya masih sibuk ngisi formulir, orang Imigrasinya bilang udah gak boleh masukin formulir hari itu karena mereka membatasi dalam sehari hanya 75 formulir yg boleh masuk. Duh, pengen nangis rasanya. Apa2an ini?! Kenapa pake dibatasi segala? Ternyata itu supaya pengecekan berkas bisa selesai jam 4 sore. Kalau lebih, bisa2 petugasnya harus lembur.<br />
<br/>Ya sudahlah terpaksa besoknya saya kembali lagi ke kantor Imigrasi. Dateng sepagi mungkin, tapi tetep aja sampe sana udah mulai rame, dan saya harus ngantri lama untuk menunggu giliran pengecekan berkas2 asli. Sempet ada masalah karena paspor saya masih valid lebih dari 6 bulan. Sedangkan peraturannya kita baru boleh memperpanjang paspor kalo masa berlakunya tinggal 6 bulan lagi atau kurang. Tapi saya gak mau nyerah, ini sudah 2 kali saya dateng ke kantor Imigrasi, masa mau ditolak juga? Saya bilang ke mereka kalo saya disyaratkan punya paspor yg valid minimal satu tahun untuk keperluan visa. Mereka akhirnya membolehkan, dengan syarat saya harus menyerahkan surat keterangan dari Aminef dan surat tersebut harus dibawa pada saat interview. So, akhirnya berhasil juga saya memasukkan berkas hari itu. Surat keterangan dari Aminef juga sudah saya dapatkan. Tinggal dateng untuk foto dan interview, dan hopefully paspor baru sudah bisa saya dapatkan 2-3 hari setelah interview, agar saya bisa segera mendapatkan vaksin Meningitis dan apply housing, serta tentu saja, mendapatkan form DS-2019 untuk pengajuan visa.</li>
</ol>
<p>Jadi, sementara temen2 yg lain udah mulai ngebahas ToA, form DS-2019, form DS-160, SEVIS, dan foto buat visa, saya masih sibuk berkutat dengan PASPOR!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/fulbright/ribet-seribet-ribetnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>No more H2C, please!</title>
		<link>http://www.elvini.net/fulbright/no-more-h2c-please</link>
		<comments>http://www.elvini.net/fulbright/no-more-h2c-please#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 15:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vinley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elvini.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Selama proses perjuangan mendapatkan beasiswa Fulbright untuk kuliah ke Amerika, berkali-kali saya harus melalui yg namanya menunggu dengan harap2 cemas alias H2C. Pertama, H2C saat menunggu hasil seleksi berkas selama hampir 4 bulan, dari April sampai Agustus 2010. Berhubung ini tahap seleksi pertama, dan pertama kali juga saya nyoba daftar beasiswa Fulbright untuk program doktor, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama proses perjuangan mendapatkan beasiswa Fulbright untuk kuliah ke Amerika, berkali-kali saya harus melalui yg namanya menunggu dengan harap2 cemas alias H2C. Pertama, H2C saat menunggu hasil seleksi berkas selama hampir 4 bulan, dari April sampai Agustus 2010. Berhubung ini tahap seleksi pertama, dan pertama kali juga saya nyoba daftar beasiswa Fulbright untuk program doktor, saya cukup pasrah di sini. Keterima syukur, enggak yaa coba lagi tahun depan. Alhamdulillah, agak2 surprising, ternyata lolos! Gak sia-sia saya menghabiskan waktu berbulan-bulan utk menulis research proposal.</p>
<p>Setelah lolos seleksi berkas, lanjut ke tahap interview. H2C yg ke-2 adalah menunggu hasil interview, untung cuma sebulan. Nggak tau deh apa kriteria panitia dalam memilih siapa yg layak lulus, sebab saya merasa interview saya tidak semulus kandidat2 yg lain, sptnya lebih dari 20 menit. Di interview itu saya dicecar abis mengenai research proposal, pokoknya udah kayak sidang thesis deh, padahal risetnya dikerjain aja belum. Makanya keluar interview, saya ngerasa capeeek banget, keringetan (padahal di ruang ber-AC). Mana waktu itu pas bulan puasa pula, gak bisa minum utk menghilangkan rasa haus. Alhamdulillah sekali lagi, saya lolos interview. Yess, dengan ini saya resmi menjadi kandidat terpilih utk menerima beasiswa Fulbright. Tapi jangan seneng dulu, karena perjuangan baru dimulai! <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Para Fulbright-ers harus mengambil 2 macam tes yg menjadi persyaratan utk mendaftar ke univ2 di Amerika, yaitu TOEFL <em>Internet-based Test</em> (TOEFL iBT) dan <em>Graduate Record Examination</em> (GRE). TOEFL iBT, pasti dah banyak yg tau dong, binatang apa itu. Sedangkan GRE, mungkin bisa dibilang semacam tes IQ. Tesnya terdiri dari section Math, Verbal, dan Analytical Writing. Dan buat keperluan kuliah ke Amrik ini, saya sudah mengambil 3 kali tes TOEFL dan 3 kali tes GRE! Baik utk TOEFL maupun GRE, score saya tidak meningkat dari tes 1 ke tes 2. <img src='http://www.elvini.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Penasaran gak bisa menaikkan score di tes ke-2, utk tes ke-3 saya berusaha lebih keras dan mencoba strategi belajar yg baru. Hasilnya, score saya meningkat cukup signifikan, cukup utk memenuhi syarat minimum dari universitas yg saya incar. Dalam masa2 menghadapi tes ini, so pasti ada H2C ketika menunggu hasil tes yg biasanya keluar antara 1-2 minggu sejak tgl tes. Di sini H2C-nya sih gak seberapa, tapi persiapan menghadapi tesnya lah yg sangat menyita waktu dan pikiran.</p>
<p>Beres urusan TOEFL dan GRE, tahap berikut adalah mencari sekolah. International Institute of Education (IIE), pihak yg mengelola beasiswa Fulbright, mengirimkan aplikasi saya ke 6 universitas: Univ of Texas at Dallas (UTD), Univ of California at St. Barbara (UCSB), Univ of Utah, Univ of North Carolina at Charlotte (UNCC), Ohio State University (OSU) dan Florida State University (FSU). Tiga univ pertama adalah pilihan saya sendiri, sedangkan 3 terakhir dipilihkan oleh IIE. Aplikasi dikirim oleh IIE sekitar akhir November 2010. Yak&#8230; H2C yg ke-4 pun dimulai, menunggu jawaban dari universitas: admitted? or rejected? Di antara 6 univ tsb, UTD-lah yg menjadi preferensi utama saya, tapi malah UNCC yg memberi respon lebih dulu, alhamdulillah admitted. Tapi krn univ ini bukan pilihan saya sendiri, saya masih penasaran dengan UTD. Kalau keterima di UTD, saya lebih memilih UTD daripada UNCC, meskipun kalau dilihat dari syarat score TOEFL dan GRE di UNCC yg lebih tinggi dari UTD, logikanya sih UNCC lebih bagus. Tapi saya sudah jatuh hati dengan UTD krn mereka punya program yg didedikasikan khusus utk Geospatial Information Science, bukan hanya sbg specialization dari department Geography seperti kebanyakan universitas2 lain. Jadi kalo saya lulus, gelar yg diperoleh adalah PhD in GIS, bukan PhD in Geography, lebih fokus kan ke bidang yg saya minati.</p>
<p>So, saya tetap setia menunggu jawaban surat cinta saya dari UTD. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, belum juga ada respon. Mula2 saya masih tenang, lama2 gelisah, lama2 emosi. Arrghh!!! Kapan sih penantian ini akan berakhir?! Lagi gelisah gitu, malah saya dapet surat penolakan dari OSU, duh! Untung udah dapet admission dari UNCC duluan, jadi gak terlalu <em>shocked</em>.</p>
<p>Setelah 4 bulan, akhirnya hari ini, 8 Maret 2011, surat cinta saya ke UTD terbalaskan. Dan isinya&#8230; diterima! Alhamdulillah, akhirnya impian saya utk kuliah di Dallas bisa terwujud. Hilang sudah segala kecemasan. Sekarang tinggal mengurus persiapan keberangkatan. Moga2 semua lancar, mudah2an saya tidak perlu mengalami H2C lagi utk menunggu keluarnya visa padahal sudah mendekati tgl keberangkatan. I&#8217;ve had enough of H2C!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elvini.net/fulbright/no-more-h2c-please/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

