Archive for the Serpihan Category

Makan Apa di Amerika?

Tadinya saya pikir di Amerika bakal makan Western food tiap hari. Roti, burger, hot dog, pizza, Spaghetti, Lasagna, dsb. Pokoknya gak bisa sering2 ketemu nasi deh. Tapi, Amerika emang komplit, ternyata makan nasi di sini bukan hal yg mewah. Beras ada, harganya pun gak mahal. Kebetulan pas baru dateng, saya tinggal di rumah teman yg orang Indonesia, jadi ya tiap hari makan masakan Indonesia terus. Bumbu2 masak juga gak susah dicari. Cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, rempah2, tapioca, bisa dicari di Asian store. Kalo males ngeracik bumbu sendiri, bumbu2 instan juga ada, untuk bikin nasi goreng, ayam goreng, rendang, rawon, soto, sambal goreng ati, lengkap deh. Gak ketinggalan mie instan, saos sambel, dan kecapnya.

Lalu untuk daging dan keju, karena kalo beli di supermarket biasa dapat dipastikan tidak halal, maka saya beli khusus di toko halal milik orang Arab. Biasanya kalo ke sana saya akan membeli daging, entah itu ayam, sapi atau kambing, dalam jumlah banyak sekaligus buat persediaan sebulan. Karena di apartemen peralatan dapurnya sudah tersedia lengkap, jadi saya bisa masak sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, gak perlu beli makan di luar.

Yang agak kebarat2an paling breakfast dan cemilannya aja. Di sini tiap pagi saya sarapan waffle atau cereal, plus kopi susu tentunya. Lalu krn es krim, permen, dan coklat murah, di kulkas juga selalu tersedia cemilan2 ini. Pas awal2, tiap malem saya makan es krim, pake topping coklat yg rasanya mirip coklat Sundae di McD. Tapi lama2, tiap hari makan es krim terus bosen juga. Jadi sekarang cuma cemilan2 coklat aja yg ada di kulkas.

Tentang makanan halal, untungnya di Amerika ini banyak orang Yahudi. Seperti kita ketahui, Yahudi juga punya pantangan makanan yg mirip dengan pantangan makanan dalam Islam (ya iyalah, tadinya juga satu sumber :D ). Dalam agama Yahudi dikenal istilah “kosher”. Kosher dalam Yahudi sama dengan halal dalam Islam. Kebanyakan makanan yg dianggap kosher oleh orang Yahudi juga halal buat Muslim, jadi sedikit banyak makanan kosher bisa menjadi pengganti makanan halal buat Muslim. Misalnya, Yahudi juga tidak boleh makan babi, krn termasuk hewan yg non kosher. Lalu hewan yg disembelih tidak mengikuti tata cara menurut standar “kashrut” juga tidak dianggap kosher, dan tata cara penyembelihan ini hampir sama dengan di Islam, harus diawali dengan menyebut nama tuhan dan sekali tebas. Bahkan dalam hal daging, pantangan di Yahudi ini lebih ketat lho daripada Islam. Beberapa makanan yg dianggap halal dalam Islam, justru tidak kosher buat orang Yahudi.

Sebaliknya ada juga makanan yg dianggap kosher oleh Yahudi, tidak halal menurut Islam. Misalnya gelatin dianggap kosher, gak peduli asalnya dari hewan yg kosher atau nggak. Walaupun alkohol dianggap tidak kosher, tapi anggur dianggap kosher. Keju juga, semua keju bagi Yahudi dianggap kosher, walaupun dibuat menggunakan enzim yg tidak kosher. Sementara bagi Islam, kalo enzimnya tidak halal, kejunya akan jadi haram.

Bagaimana cara mengetahui makanan yg kita beli kosher atau tidak? Perhatikan saja simbol K atau U dalam kemasan makanan tsb. K adalah simbol kosher yg biasanya diklaim sendiri oleh perusahaan pembuat makanan tersebut. Simbol U dalam lingkaran, adalah sertifikat kosher dari Union Orthodox Congregations, salah satu lembaga ternama di Amerika yg menetapkan standar ke-kosher-an makanan. Kalo di Indonesia, mungkin seperti MUI memberikan sertifikat halal kali ya. Selain itu biasanya juga ada simbol2 lain yg menyertai simbol kosher, seperti:

  • D (dairy): menunjukkan makanan tsb mengandung susu dan turunannya
  • M (meat): menunjukkan makanan tsb mengandung daging dan turunannya
  • F (fish): menunjukkan makanan tsb mengandung ikan dan turunannya
  • P menunjukkan makanan tsb kosher untuk Passover (hari raya Paskahnya umat Yahudi) dan sepanjang tahun
  • Pareve/parev/parve menunjukkan makanan tsb tidak mengandung susu ataupun daging

Di Amerika banyak tersebar kosher market, jadi lebih mudah mencari makanan kosher. Muslim boleh kok ikutan belanja di kosher market. Oh ya, jangan salah, bukan cuma berlogo kosher, beberapa makanan juga ada yg berlogo halal lho! Karena sebenarnya kan buat perusahaan menguntungkan juga kalo mereka menjual makanan halal, karena semua orang bisa makan, Muslim maupun non Muslim. Kalo bosen makan di rumah dan sekali2 pengen makan di luar juga bisa cari restoran Arab atau Bangladesh yg insya Allah 100% halal. Jadi, gak susah kan cari makanan halal di Amerika?

Settling in Living Place at Dallas

Sebenarnya sejak masih di Indonesia, saya sudah apply apartment di on-campus housing. Di kampus saya cuma ada 2 housing, University Village dan Waterview Park. Karena UTD tergolong kampus yg kecil, emang enak sih tinggal di kampus, ke tempat kuliah bisa jalan kaki. Saya sudah apply on-campus housing sejak bulan Juni. Rupanya saat itu udah terlambat karena pada akhirnya saya tidak bisa mendapatkan kamar sampai Fall semester dimulai. Terpaksa ketika sampai di Dallas, saya harus cari2 apartemen dulu.
Tapi, terima kasih Tuhan yg telah melancarkan urusan saya. Di UTD ada satu mahasiswa PhD yg juga dari Indonesia, namanya Herurisha. Dia di sini tinggal bersama istrinya, Prias, dan anaknya yg baru berumur 4 tahun, Rafi. Berkat Prias dan keluarga, saya punya tempat tinggal sementara di Dallas ini. Memang Tuhan Maha Besar. Hari pertama saya dateng ke sini, nyari2 apartemen di Ashwood Park, kompleks apartemen dimana Prias dan keluarga tinggal, kok ya langsung dapet. Padahal krn saya datengnya udah telat banget, Prias bilang hampir semua apartemen sudah penuh. Kalo pagi sudah banyak student UTD yg menunggu bis di bus stop depan apartemen. Saya udah siap2 aja hari itu harus ngedatengin leasing office beberapa apartemen untuk bisa ketemu satu yg masih kosong. Eh, di leasing office pertama yg saya datengin, langsung dapet. Walaupun apartemennya baru bisa ditempatin tanggal 2 September sih. Jadi sampai tanggal itu saya tinggal di rumah Prias dulu. Gak papalah harus nunggu dulu, segitu juga udah syukur bisa dapet.
Apartemen saya ini deket banget dengan apartemennya Prias, gedungnya sebelahan. Dan setelah pindah, baru saya bisa ngeliat dalemnya. Wow, ternyata luas banget! Terlalu besar untuk ditempatin sendiri. Tapi apa daya, cuma ini yg kosong waktu saya apply. Lagipula harganya juga masih reasonable. Sebenarnya cost bulanannya tergolong mahal, tapi krn saya sewa pake minimum contract langsung 7 bulan, saya dapet potongan biaya plus student discount. Setelah diitung2 cost per bulannya jadi jauh lebih murah, masih masuk lah dalam range monthly stipend yg diberikan oleh Fulbright.
Ini adalah apartemen one bed-room dan one bath-room. Ada living roon, dining room, balkon, dan dapur. Apartemen ini tidak dilengkapi dengan furniture, tapi sudah dilengkapi dengan kitchen set seperti kompor listrik, kulkas, microwave, oven, dan dishwasher. Udah komplit banget kan? Saya bisa masak makanan sehari2, bisa bikin kue. Ruangannya sudah dilengkapi AC yg dapat berfungsi sebagai cooler maupun heater. Tapi di living room juga ada perapiannya, in case the heater doesn’t work properly during winter. Waktu baru masuk, satu2nya furniture yg saya punya adalah queen-size bed, yg baru saya beli setelah pindah. Melihat living room dan dining room yg cukup luas, saya berpikir mungkin nanti saya akan beli TV dan sofa untuk diletakkan di living room. Plus, Prias katanya mau ngasih meja kalo dia dan keluarganya pindah ke Houston bulan Oktober nanti. Asyiiik, jadi gak sayang nih apartemen segede gini, gak dibiarin kosong melompong. :)
Ditinjau dari lokasi juga strategis. Apartemen ini terletak pada jalur shuttle busnya UTD, jadi walau ke kampus harus naik bis, saya gak perlu keluar biaya transportasi sama sekali. Frekuensi shuttle bus tsb juga lumayan sering, 15 menit sekali. Kecuali hari sabtu yg cuma sejam sekali. Kalo naik mobil pribadi, paling juga 5 menit dah nyampe kampus. Tapi kalo naik bis, karena berenti2, sekitar 15 menit perjalanan ke kampus. Lumayan deket kan? Dari apartemen ke bus stop pun deket banget, karena apartemen saya langsung menghadap ke jalan raya, cuma dipisahkan oleh tempat parkir aja ke jalan. Bis shuttle tsb juga melewati kompleks grocery stores, seperti Target, untuk belanja keperluan sehari2, dan Staples, untuk belanja peralatan komputer. Juga ngelewatin Bank Wells Fargo, teman dimana saya buka bank account, jadi gampang juga kalo ada urusan ke Bank. Khusus hari Jumat bis shuttle juga melewati Walmart, another grocery store besides Target.
Karena saya ngerasa apartemen ini luas banget, sebenarnya saya berencana untuk pindah ke apartemen yg lebih kecil dan lebih murah kalo kontrak saya abis nanti. Tapi dipikir2, apartemen ini sudah ideal banget. Dari segi harga, lokasi, kenyamanan, semua OK. Di housing campus, apartemen one BR kayak gini harganya jauh lebih mahal, bisa selisih $200an, itu pun lebih kecil. It seems I have no reason to move out. Lagipula di US ini sebaiknya kita punya established address, biar gampang urusan apa2, dengan bank, electric company, internet, SSN, driving license, dsb. Kalo kita terus ganti2 alamat, ribet mesti ngupdate data di sana-sini, belum mesti transfer layanan listrik dan internet. Yah, semoga saja saya betah di apartemen ini, sehingga memang tidak perlu pindah sampai kuliah saya selesai.