Archive for the Fulbright Category

Membuat ITIN/SSN

Fiuhh… setelah sekian lama tertunda-tunda, akhirnya urusan bikin SSN/ITIN ini beres sudah. Sebagai Fulbright student, saya diwajibkan memiliki Social Security Number (SSN) atau Individual Taxpayer Identification Number (ITIN). Jika saya berkerja dan mendapatkan penghasilan dari sebuah institusi di Amerika, misalnya menjadi Teaching Assistant (TA) atau Research Assistant (RA) di kampus, maka saya wajib memiliki SSN. Nah, karena sumber keuangan saya sepenuhnya dari beasiswa Fulbright, saya tidak perlu membuat SSN, tapi cukup membuat ITIN. Kalau di Indonesia, SSN/ITIN ini semacam NPWP, tujuannya untuk pelaporan pajak yang dilakukan setiap tahun, dan sama bulan Maret juga!

Untuk mendapatkan ITIN, saya bisa mengurus aplikasinya melalui Taxback, salah satu agen Internal Revenue Service (IRS), kantor pajak Amrik, yang khusus ditugaskan oleh Fulbright untuk membantu proses aplikasi ITIN bagi para Fulbrighters. Cara aplikasi ITIN melalui Taxback ini mudah sekali, kita tinggal kontak via email, memberitahukan nomor IIE Grantee ID kita, kemudian mereka akan memberikan form aplikasi. Kita harus mengisi dan menandatangani form ini, kemudian mengirimkannya ke kantor Taxback di Chicago, bersama dengan fotokopi paspor yang disahkan oleh notaris Amerika.

Nah, syarat notarisasi fotokopi paspor ini yang bikin saya pusing. Biasanya di universitas disediakan jasa notaris untuk mahasiswa. Awal Oktober, saya sudah coba menemui notaris di kampus untuk minta sertifikasi paspor saya. Tapi anehnya notaris tersebut bilang bahwa dia tidak bisa memberikan sertifikasi terhadap paspor asing, hanya bisa paspor Amerika. Menurut penjelasannya, hal tersebut dibatasi oleh ketentuan hukum di Texas. Bingung dong saya. Kalau memang notaris di Texas tidak diizinkan mensertifikasi paspor asing, lalu bagaimana saya bisa melengkapi persyaratan untuk aplikasi ITIN? Dan kenapa juga IRS membuat syarat demikian kalau tidak semua state mengizinkan notarisnya memberikan sertifikasi terhadap paspor asing?

Saya lapor ke Taxback mengenai masalah ini. Dan mereka heran sekali, karena mereka sudah sering menerima aplikasi ITIN dari student di Texas. Saya sendiri sampe searching lho di internet, mencari tau bener gak sih notaris di Texas tidak boleh mensertifikasi paspor asing? Sejauh yang saya temukan, sepertinya memang benar. Tapi kalau Taxback selama ini sudah sering menerima aplikasi ITIN dari student lain di Texas, itu kemungkinannya adalah, sang notaris bukan memberikan sertifikasi terhadap keaslian dokumen paspor mereka, melainkan sang pemilik paspor membuat pernyataan bahwa fotokopi paspor tsb adalah true copy dari paspor asli. Nah, yang disahkan oleh notaris kemudian adalah pernyataan dari si pemilik paspor tsb, bukan pengesahan mengenai keaslian dokumen. Setelah nanya temen-temen Fulbrighter lain di Texas yang sudah mendapatkan sertifikasi paspor dari notaris, dari deskripsi mereka, sepertinya memang benar sertifikasinya semacam itu.

Dari Taxback sendiri, mereka menyarankan saya untuk menemui notaris lain di luar kampus. Waktu itu saya gak tau kemana harus nyari notaris di luar kampus. Saya pikir saya harus manggil notaris ke rumah dan ngebayar mereka, dan pasti bayarannya mahal sekali. Memikirkan ini, saya jadi males ngurus ITIN. Kebetulan urusan kuliah juga menyita pikiran banget, sehingga masalah ITIN ini sempat saya lupakan. Sampe beberapa hari yang lalu, saya menerima reminder dari Taxback bahwa untuk melanjutkan proses aplikasi ITIN, saya harus mengirimkan semua dokumen yang diminta.

Tapi saya terpikir gimana kalo saya membuat SSN saja. Untuk membuat SSN, saya tidak perlu menyerahkan fotokopi paspor yang disertifikasi oleh notaris. Saya bisa bawa paspor asli saya langsung ke Social Security Administration (SSA) office. Baca-baca di web SSA, selain form dan paspor, saya juga perlu menyerahkan surat work authorization dari sponsor. Saya sudah mendapatkan surat ini dari IIE. Maka saya coba lah pergi ke SSA untuk apply SSN. Ternyata saya harus menyerahkan job offer letter dari kampus. Duh, rese banget sih. Di state lain temen-temen saya bisa mendapatkan SSN tanpa hambatan. Di Texas ribet amat ya, minta dokumen ini itu, gak boleh ada satu pun yang kurang. Ya sudahlah, sepertinya saya memang harus kembali mengurus ITIN, dan berusaha mencari cara gimana mendapatkan sertifikasi notaris untuk paspor saya.

Saya sempat minta saran ke academic advisor, international student advisor, dan IIE advisor (yup, sampe semua advisor terlibat nih) mengenai masalah ini. Saya gak tau dimana harus mencari notaris di luar kampus, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Orang-orang di kampus menyarankan saya pergi ke bank, karena bank menyediakan jasa notaris, dan biasanya gratis kalau kita punya akun disana. Saya coba pergi ke bank, tapi ternyata notaris di bank tidak bisa memberikan sertifikasi terhadap fotokopi sebuah dokumen untuk membuatnya dapat menggantikan dokumen asli. Mereka hanya bisa meresmikan surat-surat pernyataan. Duh, yang ini lebih parah nih. Bukan hanya paspor asing, paspor Amrik pun gak bisa. Notaris di bank menyarankan saya untuk pergi ke kantor pos. Biasanya di kantor pos menyediakan jasa notaris, siapa tau notaris di sana bisa memberikan sertifikasi paspor saya.

Saya kesel banget. Menyebalkan sekali kalo saya harus pergi kesana kemari untuk nyari notaris yang bersedia mensertifikasi paspor asing. Pergi-pergian di Dallas tanpa mobil itu ribet karena frekuensi bis yang jarang (dibanding Jakarta). Saya gak mau pergi ke kantor pos sebelum saya tau pasti bahwa disana saya bisa mendapatkan sertifikasi notaris terhadap paspor saya. Saya cari dulu di internet apakah benar kantor pos menyediakan jasa notaris. Ternyata menurut info di internet, tidak ada. Tapi jasa pengiriman yang lain, seperti UPS, justru menyediakan. Kebetulan di sekitar tempat tinggal saya ada UPS store, saya coba kesana.

Alhamdulillah, notaris di UPS store bersedia mensertifikasi paspor saya. Katanya, selama dia sendiri yang membuat salinan dari sebuah dokumen, dan sertifikasi yang diberikan hanya menyatakan bahwa salinan tsb adalah true copy dari original document, bukan menyatakan bahwa dokumen yang disalin adalah benar milik saya, maka dia bisa memberikan sertifikasi. Dan saya cukup membayar $7. Fotokopi paspornya pun dibuat berwarna. Notarisnya pun ramah banget. Tau saya dari Indonesia, dia langsung muji bahwa Indonesia is a beautiful country. Katanya dia sering melihat foto-foto Indonesia di internet dan kagum dengan keindahan alam Indonesia. Dia belum pernah ke luar negeri selain ke Canada, tapi Canada membosankan. Ya iya lah, buat orang Amrik, Canada membosankan. Sama aja kayak orang Indonesia ke Malaysia. :)

Heran juga ya, kenapa notaris yang ini bisa mensertifikasi paspor asing, tapi notaris di kampus nggak bisa? Padahal sama-sama di Texas. Atau mungkin notaris yang ini gak tau kalau sebenarnya dia gak boleh mensertifikasi paspor asing? Entahlah, saya gak peduli. Yang penting saya bisa mendapatkan sertifikasi paspor saya. Hari itu juga (akhir November) saya kirim semua dokumen aplikasi ITIN saya ke Taxback.

The Journey to the Land of Dreams

Setelah 3 hari nyampe, akhirnya baru sekarang punya kesempatan nulis cerita perjalanan dari Jakarta ke Dallas kemaren. Saya dateng dah mepet banget sih. Malam ini nyampe, besoknya udah mesti ngurus urusan administrasi di kampus, harus ikut orientasi, bahkan sekarang udah harus kuliah. Belum sempet jadi turis nih di Amrik!

Rute penerbangan saya sebenarnya adalah Jakarta -> Tokyo (Narita) -> Los Angeles -> Minneapolis -> Dallas. Penerbangan pertama, dari Jakarta ke Tokyo, banyak barengan temen2 Fulbrighter lainnya. Ada Dian Kusuma, Dwi Rivami, Ida Ansharyani, Pak Leo, Buldan, Ayu Diasti, Yu Un Oppusunggu, dan Samuel Rompis. Tapi dari Narita ke LA, cuma satu yg bareng saya, yaitu Dwi Rivami. Pak Leo juga ke LA sebenarnya, tapi dia pake UA, sedang saya dan Dwi naik Delta. Jadwal penerbangannya pun tidak bersamaan, so kita gak ketemu lagi setelah dari Narita.

Perjalanan dari Jakarta ke Tokyo lancar. Kita semua satu pesawat, naik Garuda. Berangkat jam 11 malem, nyampe Tokyo jam 9 pagi. Duduknya juga deket2an, kecuali beberapa orang yg cek-innya gak bareng. Oya, setelah menimbang2 akhirnya saya memutuskan untuk tidak berpuasa saja, khawatir dehidrasi. Lagipula musafir kan, dapet keringanan :P Insya Allah nanti bisa dibayar di waktu yg lebih lapang. Jadi walaupun mbak2 pramugarinya berbaik hati menanyakan apakah saya ingin sahur, saya jawab tidak. Minta disediakan makan di jam sarapan aja bareng penumpang yg lain.

Sampe Tokyo, airport Narita masih sepiii banget. Rupanya sebagian besar yg satu pesawat dengan kita itu orang Jepang yg pada balik. So yg lanjut ke international connecting flight cuma segelintir, kebanyakan ya rombongan kita ini. Setelah melewati pemeriksaan, kita pergi ke terminal 1 naik bis airport. BTW, this is the first time I set my foot in Japan!

Di airport Narita kita nunggu cukup lama karena penerbangan berikutnya rata2 pada sore, ada yg jam 3.30 ada yg jam 4. Tapi gak bosen kok. Di lounge2 airport ada kursi2 panjang yg bisa buat tiduran. Saya sempet tidur juga di sini. Tapi yg paling penting, saya sempet mandi dong! Tahukah anda bahwa di airport Narita ini tersedia fasilitas Shower dan Day Room untuk mandi atau sekedar tidur2an di kasur? Untuk shower doang, biayanya $14 per 30 menit. Gila, ini mandi termahal yg pernah saya lakukan! Tapi ya, wortel lah. Habis mandi itu, saya ngerasa fresh lagi, siap meneruskan penerbangan berikutnya. Kayak batere baru dicharge deh. Di antara rombongan yg bareng dari Jakarta ke Narita, cuma saya, Dian dan Ayu nih yg sangat memikirkan higienis dan sudah persiapan bawa baju ganti dan perlengkapan mandi untuk mandi di perjalanan yg panjang ini.

Pokoknya di Narita itu saya bikin senyaman mungkin kayak lagi di rumah. Mandi, makan, sholat. Kebetulan di lounge ada pojok2 ruangan yg cukup bersih dan sepi. Bisalah kita gelar sajadah sholat di situ. Untuk tau arah kiblat, saya juga sudah membawa kompas. Saking lamanya kita nunggu di airport, saya sampe apal sudut2nya krn selama nunggu itu kita bolak-balik di sekitar situ aja, gak boleh keluar airport. Sore hari, tibalah saatnya untuk berpencar. Tinggal Dwi saja yg jadi temen seperjalanan saya ke LA. Sayang krn kita cek-in udah telat, kita gak bisa minta dikasih tempat duduk yg sebelahan, dan dapet tempat duduk yg terpisah jauh. Saya di depan, Dwi di belakang. Hiks… Mana perjalanannya lama, 10 jam lebih. Ya sudahlah, mau gimana lagi. Tiga orang yg duduk satu baris dengan saya kebetulan orang Jepang semua.

Nyampe di LA jam 9 pagi di hari yg sama. Sepanjang perjalanan ke LA saya berusaha untuk tidur, gak terlalu menikmati hiburan movie. Tapi gak berhasil juga. Saya gak bisa tidur nyenyak di pesawat, padahal udah minum antimo. Anyway, sebagai port of entry, di LA inilah kita harus menembus imigrasi dan custom, dua hal yg tadinya sangat ditakutkan. Takut gak boleh masuk lah, takut kopernya dibuka2 lah, atau ada barang2 yg disita dan harus dibuang. Syukur alhamdulillah, ternyata semuanya berjalan mulus. Imigrasi lancar, finger prints & scan retina, custom juga gak pake acara digeledah. Mungkin krn saya dan Dwi merupakan penumpang terakhir yg diperiksa, petugas2nya udah males kali meriksa secara detil. Di custom cuma ditanya bawa fresh fruits nggak. Dijawab nggak, ya udah, dipersilakan aja lewat dan kopernya discan.

Nah, mulai dari LA ini nih masalah demi masalah saya temui. Rute penerbangan saya selanjutnya harusnya ke Minneapolis, dan koper2 saya juga sudah ditag sampe tujuan ke Minneapolis. Jadi oleh petugas Delta di LA, koper2 saya langsung dikirimkan lagi ke bagasi untuk penerbangan ke Minneapolis. Saat itu saya belum punya boarding pass. Ketika saya cek-in untuk minta boarding pass, barulah ketahuan bahwa ternyata pesawat dari Minneapolis ke Dallas Fort Worth (DFW) hari itu ditiadakan. Yaaah… jadi ngapain saya ke Minneapolis? Oleh Delta lalu rute perjalanan saya diubah jadi ke Salt Lake City (SLC), lalu nyambung ke DFW. Masalahnya, bagasi saya udah terlanjut dikirim ke penerbangan Minneapolis. Jadi gimana nih? Petugasnya sudah mengirimkan pesan ke pihak2 terkait untuk memberitahukan perubahan tujuan bagasi saya. Tapi dia gak jamin bisa keburu diproses. Apakah bagasi saya terkirim ke penerbangan yg benar, itu baru bisa dicek kalau saya sudah sampai di tujuan akhir, yaitu di DFW.

Huahh… lemes banget deh saya saat itu, ngebayangin tas saya entah bisa nyampe apa nggak ke Dallas. Padahal saya seneng juga rute penerbangannya diubah jadi lewat SLC, krn emang jadi lebih deket, nyampe ke DFWnya juga lebih cepet, jam 8 malem, dibanding rute semula lewat Minneapolis yg baru nyampe DFW jam 12.30 dini hari. Untunglah saya membawa semua dokumen2 penting di badan. I’ve prepared for the worst, somehow I’ve expected that something like this will happen.

Di LA sini, saya dan Dwi harus berpisah. BTW, saking badan udah capek banget sekian jam menempuh perjalanan jauh, stress krn penerbangan yg dihapus (walau akhirnya diganti), plus cemas krn masalah koper yg salah masuk bagasi, saya sampe gak nyadar bahwa saya sudah di Amerika lhooo! This is Los Angeles, maaann…! Setelah agak tenang, saya mulai memperhatikan sekeliling saya. Suasana di airport LA saat itu hectic banget, banyak orang seliwar-seliwer narik2 travel bag. Hiruk-pikuk lah pokoknya! Sayang gak sempet keluar airport krn penerbangan saya berikutnya cukup mepet.

Masalah yg saya temui tdk berhenti sampai di koper yg nyasar, tapi juga penerbangan ke SLC yg entah kenapa terlambat sejam. Padahal penumpang masuk pesawat on time. Masalahnya adalah, jarak waktu tiba di SLC, dan penerbangan saya berikutnya ke DFW, itu cuma 40 menit. Nah, kalo penerbangan ke SLC-nya aja telat sejam gini, dapat dipastikan saya akan ketinggalan pesawat yg ke DFW. Dan memang itulah yg terjadi. Tapi tenang, I’m not alone, hampir separuh penumpang pesawat ke SLC ini juga akan melanjutkan penerbangan berikutnya yg layover timenya juga kurang dari sejam. Di sini saya salut banget dengan layanan dari Delta. Mereka tanggung jawab banget keterlambatan ini disebabkan oleh mereka, bukan oleh penumpang. So, setelah melapor saya segera dicarikan penerbangan pengganti ke DFW yg 3 jam lebih lambat. Jadi, harusnya saya naik pesawat yg berangkat jam 5, jadi naik yg berangkat jam 8 malem. Mereka juga ngasih voucher meal seharga $12 untuk saya beli makan di lingkungan airport. Tentu saja tidak saya sia2kan voucher ini, krn di penerbangan LA -> SLC yg cuma 2 jam kebetulan gak dapet makan.

Masalah berikutnya, krn berangkat dari SLC udah jam 8 malem, jam 11.40 malem baru saya bisa nyampe Dallas. Sebenarnya perjalanannya cuma sekitar 2,5 jam, tapi krn waktu Dallas lebih cepat sejam dari SLC, tambah malem aja deh jam tibanya. Krn udah malem gini, temen saya yg mau jemput juga udah gak berani jemput. Pilihan saya cuma: nunggu di airport DFW sampe subuh untuk dijemput, atau saya pergi sendiri naik taksi. Terus terang krn saya gak bisa tidur nyenyak di pesawat, saya ngantuuuuk banget. Pengen cepet2 nyampe, cepet2 tidur. Lagipula besoknya banyak yg harus saya kerjakan, ada janji ketemuan dengan advisor jam 10 pagi. Kalo subuh baru nyampe, kapan istirahatnya? So, saya memutuskan pulang sendiri saja naik taksi. Mohon perlindungan pada Tuhan supaya saya diberi keselamatan sampai di tujuan.

Oya, urusan koper, ketika sampai di airport DFW, benar saja, setelah saya menunggu sampe semua koper keluar di carousel, koper saya tidak ada. Segera saya melakukan baggage claim. Krn sudah menduga bahwa koper saya tidak akan ikut terbawa oleh saya ke DFW, ketika melapor itu saya lumayan nyantai juga ngomong, “I think I’ve lost my luggages. I’m afraid they’re sent to the wrong flight.” As if it is something no big deal at all. Tapi ketika petugasnya ngecek nomor bagasi saya, dia bilang koper2 saya akan nyampe ke DFW besok pagi. Dikirim dari DFW ke alamat siang hari, jadi mungkin sore hari udah nyampe apartemen tempat saya tinggal sementara di Dallas ini. Huahh… lega deh!

So, tanpa koper di tangan, gak ada yg jemput, saya pun meninggalkan airport naik taksi. Thanks God, saya bertemu orang2 baik di Amerika sini. Supir taksi yg nganterin saya itu orang kulit hitam. Dia juga gak tau lokasi alamat tujuan saya. So, dia bersedia repot2 berenti dulu di jalan untuk nyari alamat saya ini di peta kota Dallas yg kayak buku Peta Gunther. Hebat lah supir taksi ini bawa2 buku peta kayak gini. Setelah ngecek di peta, baru dia bisa menemukan alamat itu di GPS. So, dia pake GPS untuk memandu perjalanan kita dari DFW ke Richardson, yg menurutnya cukup jauh. Pas nyampe juga dia nemenin saya sampe ketemu apartemen yg dicari, baru dia pergi. Baik banget lah pokoknya, padahal saya udah takut aja, pulang tengah malem, di negeri orang, sendirian, bareng supir taksi yg tampangnya nyeremin gini. Benar memang, kita tidak boleh menilai orang dari luarnya.

Penerbangan Jakarta -> Tokyo dan Tokyo -> LA, saya naik pesawat yg besar dengan hiburan yg OK punya. Dari LA ke SLC, mulai turun kasta ke pesawat yg lebih kecil, spt yg biasa saya tumpangi dalam perjalanan Jkt-KL. Udah gak ada hiburan movie di sini. Dari SLC ke DFW, lebih kecil lagi pesawatnya. Saya belum pernah naik pesawat sekecil ini, yg kursinya cuma 2-2, dah kayak bis malem aja :P Kapasitasnya juga cuma sedikit. Tapi syukurlah, akhirnya saya bisa nyampe Dallas dengan selamat. Koper2 saya juga akhirnya dikirimkan ke saya dalam keadaan utuh, tidak ada yg kurang sedikit pun, padahal gak digembok. Oya, tapi salah satu koper rupanya ada yg dibongkar oleh TSA. Segel dari bandara Sutta udah kebuka. Ketika saya liat di dalem koper ada notice dari TSA bahwa koper saya telah diinspeksi. Kebetulan ini koper yg ada makanannya. Tapi setelah dicek, makanannya gak ada yg disita juga, bahkan susunan isinya gak ada yg berubah. Alhamdulillah, gak sia2 makanan2 tsb dibawa jauh2 dan berat2 dari Indonesia, akhirnya bisa dinikmati juga di Amerika.

In summary, saya menempuh rute Jakarta -> Tokyo -> LA -> SLC -> DFW. Perjalanan dari Jakarta ke Dallas memakan waktu total sekitar 36 jam. Dan selama di pesawat itu saya gak bisa tidur. Kebayang dong capek dan ngantuknya, plus tegang krn masalah2 yg ditemui. But after all, I’m here now, safe and sound, in the land of dreams, the United States of America!

RIBET SERIBET-RIBETNYA!!

Setelah berakhir masa2 kecemasan menunggu hasil beasiswa dan admission dari universitas, ternyata perjalanan saya masih panjang untuk benar2 bisa kuliah di Amrik.

  1. Sebenarnya dari tgl 8 Maret 2011 lalu saya sudah mendapat admission letter dari University of Texas at Dallas (UTD), univ pilihan utama saya. Dan sebenarnya pula, ada 3 univ lagi yg nerima saya. Tapi kok ya, di antara 4 univ yg nerima itu, pas univ yg saya mau, pas yg budgetnya ada shortfall, alias melebihi Fulbright grant yg dialokasikan untuk saya.

    Sebenarnya masalah ini bisa diatasi dengan mudah kalo aja saya gak banyak gaya dan mau merelakan: pilih aja univ lain yg gak ada shortfall. UNCC misalnya, yg Professor dan calon academic advisornya udah kontak2an dengan saya, dan menunjukkan sikap yg welcome banget untuk nerima saya. Tapi… gimana yah, milih sekolah tuh kayak milih jodoh sih, kalo gak sreg susah mau nerima. Saya sregnya dengan UTD, dan saya akan sangat menyesal sekali kalau sampai batal kuliah disana hanya krn terkendala masalah shortfall. Apalagi, khusus untuk mendaftar ke program PhD in GIS, waktu itu saya harus menulis essay tambahan. So, udah susah2 perjuangannya supaya bisa keterima di sana, setelah diterima masa mau dilepas begitu aja?

    Shortfall di UTD sebenarnya gak terlalu besar, hanya sekitar USD 1700an. Kata orang Aminef, yg udah2 sih kalo shortfallnya kecil, DIKTI bersedia nanggung. Tapi hingga bulan Mei, belum ada kepastian dari DIKTI. Sementara rekan2 Fulbrighters yg lain sudah dapat placement mau ke universitas mana.

    Saya mulai cemas. Sepertinya saya tidak bisa mengandalkan DIKTI dan harus segera mencari sumber lain untuk menutupi shortfall tsb. Pokoknya, ditanggung DIKTI ataupun tidak, saya tetap akan memilih UTD. Orang Aminef bilang, begitu saya sudah mengkonfirmasi untuk memilih UTD, maka saya harus bisa memberikan bukti kesanggupan mengcover shortfall tersebut. Kalau gagal, maka saya akan gagal mengikuti program beasiswa ini, sebab mereka akan menolak tawaran dari universitas2 lain yg sudah menerima saya. Duh, jangan sampe deh.

    Syukurlah institusi saya bersedia menanggung shortfall tsb dan memberikan surat jaminan ke pihak IIE. Akhirnya, tgl 24 Mei saya dapat mengkonfirmasi pilihan saya ke UTD. Alhamdulillah…

Setelah konfirmasi universitas, maka mulailah keribetan2 (lho, jadi dari tadi belum mulai?) untuk persiapan keberangkatan.

  1. Yang namanya mau kuliah ke LN, kita harus melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan. Berdasarkan pengalaman temen2 yg lain, proses medical check-up ini harus bolak-balik ke RS krn kita harus diberi 2 vaksin, dan pemberian vaksin tidak boleh dilakukan sekaligus dalam sehari, takut menyebabkan demam. Maka saya cari RS yg deket rumah aja. Dan memang saya harus 3 kali ke RS tsb. Pertama buat tes urin, tes darah, tes mata, tes tuberkulin (mantoux), foto rontgen, dan vaksin tetanus booster; ke-2 buat vaksin MMR; dan ke-3 ngambil hasilnya. Masing2 selisih 2 hari, jadi sekitar 5 hari baru beres deh urusan medical check-up ini. Ribetnya gak terlalu sih, tapi suntik-menyuntiknya itu lho, ampun deh. Apalagi yg pas suntik MMR, sakiiit!!
  2. Saya harus meminta Rektor institusi saya untuk menulis surat persetujuan ke Diknas. Duh, heran deh kok masih pake surat persetujuan segala? Padahal dulu (udah setahun yg lalu lho) waktu apply beasiswa kan udah pake surat izin Rektor. Jadi pasti Bapak Rektor sudah tau bahwa kalau saya mendapatkan beasiswa ini, ya tahun ini saya akan berangkat. Kenapa sekarang mesti nulis surat persetujuan lagi?

    Bukan itu aja. Selain ngerepotin Rektor, DIKTI juga meminta saya membuat surat perjanjian dan permohonan pengajuan paspor dinas, padahal saya bukan PNS. Tanya ke orang Aminef, mereka bilang DIKTI mau ngurusin pembuatan paspor dinas tsb. Tapi saya yakin, paling itu orang DIKTInya aja yg males ngebeda2in dosen PNS dan non-PNS. Jadi semua disuruh bikin surat perjanjian dan form pengajuan paspor dinas. Padahal nanti yg bisa dibikinin paspor dinas ya paling hanya dosen yg PNS. Ngerepotin aja kan? Tapi ya sudahlah, saya ikuti aja maunya DIKTI. Saya isi semua berkas yg mereka minta, dan semua sudah saya kirim ke Aminef, untuk kemudian dikirimkan ke DIKTI.

  3. Untuk tempat tinggal di US, saya berniat mem-booking apartemen di on campus housing. Karena saya lihat jam kuliahnya kebanyakan sore-malem (mungkin kelas post-grad jamnya kebagian sore-malem, krn kuliah pagi-siang buat mahasiswa undergrad), maka saya gak mau cari apartemen yg jauh2, pengennya yg di dalem kampus biar bisa jalan kaki ke tempat kuliah. Nah, untuk apply on campus housing itu syaratnya harus ada bukti vaksin Meningitis. Mereka tidak mau memproses aplikasi housing saya sebelum saya menyerahkan bukti vaksinasi tsb.

    Meskipun udah kenyang suntikan vaksin dan suntikan2 lainnya waktu medical check-up kemarin, OK lah nambah 1 suntikan vaksin lagi saya masih sanggup. Masalahnya, untuk vaksinasi Meningitis ini saya harus memberikan nomor paspor. Nah, soal paspor ini ada keribetan lagi nih. Orang Aminef minta saya untuk memperbaharui paspor krn mereka mensyaratkan paspor saya harus valid minimal 6 bulan setelah 1 tahun program beasiswa. Sementara paspor saya akan expire bulan Maret 2012. Duh, mana waktunya udah mepet gini, pake harus memperpanjang paspor segala. Udah gitu pas long wiken pula shg saya tdk bisa segera mengurus perpanjangan paspor tsb. Sampe2 saya harus bolak-balik dalam sehari itu pergi ke kampus untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Dekan, lalu ke kantor imigrasi Depok, lalu balik lagi ke kampus utk mengajar. Eh, udah dibela2in bolak-balik gini, pas sampe kantor Imigrasi, saat saya masih sibuk ngisi formulir, orang Imigrasinya bilang udah gak boleh masukin formulir hari itu karena mereka membatasi dalam sehari hanya 75 formulir yg boleh masuk. Duh, pengen nangis rasanya. Apa2an ini?! Kenapa pake dibatasi segala? Ternyata itu supaya pengecekan berkas bisa selesai jam 4 sore. Kalau lebih, bisa2 petugasnya harus lembur.

    Ya sudahlah terpaksa besoknya saya kembali lagi ke kantor Imigrasi. Dateng sepagi mungkin, tapi tetep aja sampe sana udah mulai rame, dan saya harus ngantri lama untuk menunggu giliran pengecekan berkas2 asli. Sempet ada masalah karena paspor saya masih valid lebih dari 6 bulan. Sedangkan peraturannya kita baru boleh memperpanjang paspor kalo masa berlakunya tinggal 6 bulan lagi atau kurang. Tapi saya gak mau nyerah, ini sudah 2 kali saya dateng ke kantor Imigrasi, masa mau ditolak juga? Saya bilang ke mereka kalo saya disyaratkan punya paspor yg valid minimal satu tahun untuk keperluan visa. Mereka akhirnya membolehkan, dengan syarat saya harus menyerahkan surat keterangan dari Aminef dan surat tersebut harus dibawa pada saat interview. So, akhirnya berhasil juga saya memasukkan berkas hari itu. Surat keterangan dari Aminef juga sudah saya dapatkan. Tinggal dateng untuk foto dan interview, dan hopefully paspor baru sudah bisa saya dapatkan 2-3 hari setelah interview, agar saya bisa segera mendapatkan vaksin Meningitis dan apply housing, serta tentu saja, mendapatkan form DS-2019 untuk pengajuan visa.

Jadi, sementara temen2 yg lain udah mulai ngebahas ToA, form DS-2019, form DS-160, SEVIS, dan foto buat visa, saya masih sibuk berkutat dengan PASPOR!

No more H2C, please!

Selama proses perjuangan mendapatkan beasiswa Fulbright untuk kuliah ke Amerika, berkali-kali saya harus melalui yg namanya menunggu dengan harap2 cemas alias H2C. Pertama, H2C saat menunggu hasil seleksi berkas selama hampir 4 bulan, dari April sampai Agustus 2010. Berhubung ini tahap seleksi pertama, dan pertama kali juga saya nyoba daftar beasiswa Fulbright untuk program doktor, saya cukup pasrah di sini. Keterima syukur, enggak yaa coba lagi tahun depan. Alhamdulillah, agak2 surprising, ternyata lolos! Gak sia-sia saya menghabiskan waktu berbulan-bulan utk menulis research proposal.

Setelah lolos seleksi berkas, lanjut ke tahap interview. H2C yg ke-2 adalah menunggu hasil interview, untung cuma sebulan. Nggak tau deh apa kriteria panitia dalam memilih siapa yg layak lulus, sebab saya merasa interview saya tidak semulus kandidat2 yg lain, sptnya lebih dari 20 menit. Di interview itu saya dicecar abis mengenai research proposal, pokoknya udah kayak sidang thesis deh, padahal risetnya dikerjain aja belum. Makanya keluar interview, saya ngerasa capeeek banget, keringetan (padahal di ruang ber-AC). Mana waktu itu pas bulan puasa pula, gak bisa minum utk menghilangkan rasa haus. Alhamdulillah sekali lagi, saya lolos interview. Yess, dengan ini saya resmi menjadi kandidat terpilih utk menerima beasiswa Fulbright. Tapi jangan seneng dulu, karena perjuangan baru dimulai! :)

Para Fulbright-ers harus mengambil 2 macam tes yg menjadi persyaratan utk mendaftar ke univ2 di Amerika, yaitu TOEFL Internet-based Test (TOEFL iBT) dan Graduate Record Examination (GRE). TOEFL iBT, pasti dah banyak yg tau dong, binatang apa itu. Sedangkan GRE, mungkin bisa dibilang semacam tes IQ. Tesnya terdiri dari section Math, Verbal, dan Analytical Writing. Dan buat keperluan kuliah ke Amrik ini, saya sudah mengambil 3 kali tes TOEFL dan 3 kali tes GRE! Baik utk TOEFL maupun GRE, score saya tidak meningkat dari tes 1 ke tes 2. :( Penasaran gak bisa menaikkan score di tes ke-2, utk tes ke-3 saya berusaha lebih keras dan mencoba strategi belajar yg baru. Hasilnya, score saya meningkat cukup signifikan, cukup utk memenuhi syarat minimum dari universitas yg saya incar. Dalam masa2 menghadapi tes ini, so pasti ada H2C ketika menunggu hasil tes yg biasanya keluar antara 1-2 minggu sejak tgl tes. Di sini H2C-nya sih gak seberapa, tapi persiapan menghadapi tesnya lah yg sangat menyita waktu dan pikiran.

Beres urusan TOEFL dan GRE, tahap berikut adalah mencari sekolah. International Institute of Education (IIE), pihak yg mengelola beasiswa Fulbright, mengirimkan aplikasi saya ke 6 universitas: Univ of Texas at Dallas (UTD), Univ of California at St. Barbara (UCSB), Univ of Utah, Univ of North Carolina at Charlotte (UNCC), Ohio State University (OSU) dan Florida State University (FSU). Tiga univ pertama adalah pilihan saya sendiri, sedangkan 3 terakhir dipilihkan oleh IIE. Aplikasi dikirim oleh IIE sekitar akhir November 2010. Yak… H2C yg ke-4 pun dimulai, menunggu jawaban dari universitas: admitted? or rejected? Di antara 6 univ tsb, UTD-lah yg menjadi preferensi utama saya, tapi malah UNCC yg memberi respon lebih dulu, alhamdulillah admitted. Tapi krn univ ini bukan pilihan saya sendiri, saya masih penasaran dengan UTD. Kalau keterima di UTD, saya lebih memilih UTD daripada UNCC, meskipun kalau dilihat dari syarat score TOEFL dan GRE di UNCC yg lebih tinggi dari UTD, logikanya sih UNCC lebih bagus. Tapi saya sudah jatuh hati dengan UTD krn mereka punya program yg didedikasikan khusus utk Geospatial Information Science, bukan hanya sbg specialization dari department Geography seperti kebanyakan universitas2 lain. Jadi kalo saya lulus, gelar yg diperoleh adalah PhD in GIS, bukan PhD in Geography, lebih fokus kan ke bidang yg saya minati.

So, saya tetap setia menunggu jawaban surat cinta saya dari UTD. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, belum juga ada respon. Mula2 saya masih tenang, lama2 gelisah, lama2 emosi. Arrghh!!! Kapan sih penantian ini akan berakhir?! Lagi gelisah gitu, malah saya dapet surat penolakan dari OSU, duh! Untung udah dapet admission dari UNCC duluan, jadi gak terlalu shocked.

Setelah 4 bulan, akhirnya hari ini, 8 Maret 2011, surat cinta saya ke UTD terbalaskan. Dan isinya… diterima! Alhamdulillah, akhirnya impian saya utk kuliah di Dallas bisa terwujud. Hilang sudah segala kecemasan. Sekarang tinggal mengurus persiapan keberangkatan. Moga2 semua lancar, mudah2an saya tidak perlu mengalami H2C lagi utk menunggu keluarnya visa padahal sudah mendekati tgl keberangkatan. I’ve had enough of H2C!